Dua pelajaran hidup dari Inggris vs Jerman

Kemarin malam saya menonton pertandingan Inggris vs Jerman. Hmm, walaupun saya adalah  fans The Three Lions, tapi saya mengakui bahwa permainan tim Jerman kemarin memang lebih baik dari Inggris. Namun, yang bikin saya geram adalah keputusan wasit di menit ke-38. Bola hasil tendangan Lampard yang jelas-jelas telah melewati garis tidak menghasilkan angka. Ketika itu, jika saya tidak salah tim Jerman telah unggul 2-1 atas Inggris.

Kemudian, hari ini saya membaca berita di Yahoo. Di sana dikatakan bahwa sang kiper Jerman sendiri mengakui bahwa bola memang seharusnya menghasilkan angka bagi tim Inggris. Di bawah ini merupakan kutipan komentar sang kiper Jerman, Neuer terhadap insiden tersebut yang saya baca di berita tersebut.

Meski mengakui gol itu, Neuer yakin bahwa gol-tak-jadi Lampard itu tak berpengaruh bila pun wasit mengakuinya. “Itu memang sebuah insiden, dan jelas itu penting. Tapi saya yakin tim kami lebih kuat dan pantas menang, bahkan tanpa kejadian itu,” ujarnya.

Sementara Lampard sendiri berkomentar:

“Saya sungguh heran mengapa gol itu tak disahkan. Ini sangat menentukan. Saya tidak akan mencari-cari alasan tersingkirnya kami. Tapi bila skor menjadi 2-2, pertandingan akan
berbeda,” lanjutnya.

Terlepas dari kekecewaan saya sebagai fans tim Inggris, tampaknya ada beberapa pelajaran yang dapat saya ambil dari peristiwa ini.

Mungkin, sebagian kita sangat setuju dengan komentar Neuer, bahwa jikapun gol Lampard tersebut sah, Jerman tetap akan menang karena lebih kuat. Hmm, tetapi tanpa mengurangi rasa hormat saya secara pribadi menganggap komentar tersebut sangat naif. Seolah-olah dia tahu persis apa yang akan terjadi pada pertandingan tersebut.

Saya setuju dengan komentar Lampard. Coba kita bayangkan: jika gol tersebut ternyata “dianggap” oleh wasit, maka kedudukan akan menjadi seri 2-2. Hal tersebut sangat mungkin akan meningkatkan semangat seluruh tim Inggris untuk menjaga kekompakan dan kecermatannya dalam bermain, dan siapa yang tahu pada akhirnya Inggris lah yang menang. Pernahkah kita berpikir bahwa kekalahan Inggris kemarin mungkin disebabkan oleh faktor moral yang menurun karena kecewa akan peristiwa tersebut? Jadi, yang ingin saya katakan adalah setiap keputusan, setiap peristiwa yang terjadi pada setiap detik akan mempengaruhi peristiwa-peristiwa selanjutnya. Tidak ada seorang pun yang secara pasti tahu apa yang akan terjadi.

Demikian juga dengan hidup kita. Setiap kejadian yang telah kita alami memiliki hubungan sebab-akibat terhadap kondisi kita saat ini. Segala hal yang kita lakukan saat ini, akan berpengaruh terhadap kondisi kita di masa yang akan datang. Semuanya saling berhubungan. Itulah sebabnya, disadari atau tidak kita sering bergumam, “Seandainya, aku dulu tidak …., maka sekarang aku ….”

Namun, saya bukan bermaksud untuk menyetujui tindakan penyesalan melalui tulisan ini. Sebaliknya, saya ingin agar kita semua selalu cermat dan memikirkan setiap hal yang kita lakukan. Jika suatu saat kita masih mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan, jangan menyesal, tetapi syukuri apa yang ada dan yang telah terjadi. Berpikir bahwa segala hal positif sekecil apapun yang kita alami saat ini merupakan keputusan yang telah kita ambil dulu akan membantu kita untuk selalu bersyukur. Kemudian berpikirlah bahwa terjadinya hal yang tidak mengenakkan tersebut merupakan panggilan bagi kita untuk bercermin, introspeksi dan merupakan suatu tanda sayang dari Yang Maha Kuasa.

Hal yang kedua yang saya dapat dari insiden Inggris-Jerman tersebut adalah sikap sang kiper yang tidak “protes” ketika wasit terkelabui olehnya. Saya tidak tahu apakah sikap tersebut termasuk sikap fair play atau tidak dan saya juga tidak menyalahkan tindakannya karena tingkat konsentrasi untuk tetap fokus pada pertandingan sangat tinggi dan juga mungkin ada kepentingan yang lebih besar yang harus diutamakan. Namun, entah teman-teman setuju atau tidak, saya pribadi menganggap peristiwa tersebut sebenarnya telah mencoreng FIFA sendiri yang sering mengumandangkan fair play.

Peristiwa tersebut sering kali kita alami juga dalam kehidupan sehari-hari. Kita menutup mata terhadap sesuatu demi kepentingan kita atau kelompok kita.  Semoga, ketika kita menghadapi peristiwa yang tidak benar, kita dimampukan untuk menyuarakan kebenarannya.

Ternyata selain sambil minum kopi, kita juga bisa menonton Piala Dunia sambil belajar tentang kehidupan.

(Gambar dan kutipan diambil dari berita di Yahoo tgl 28 Juni 2010)

One thought on “Dua pelajaran hidup dari Inggris vs Jerman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s