Belajar dari Anak Kecil

Bahan bacaan: Filipi 4:5

Selama liburan musim panas, saya bertugas mengasuh seorang gadis kecil berusia empat setengah tahun. Ini merupakan pekerjaan yang sangat mengesankan bagi saya selama libur kuliah. Nama gadis kecil itu Maddie dan kami selalu bermain di taman sesudah makan siang. Maddie adalah gadis kecil berhati mulia, ia penuh kasih dan perhatian kepada orang lain. Mungkin kebiasaan ini menurun dari orang tuanya yang juga pengasih. Saya sangat kagum kepada keluarga ini, mereka berbeda.

Hari itu saya sedang menemani Maddie di kolam renang ketika kami mendengar suara tawa anak-anak. Kami mencari tahu dari mana datangnya suara itu dan kami melihat sekelompok anak mengerumuni sebuah bangku. Maddie segera berhenti berenang dan datang ke sana untuk mengetahui apa yang mereka tertawakan. Kami pun berjalan ke arah bangku itu dan seorang anak laki-laki berkata Maddie, “Lihatlah, wanita ini sangat aneh. Dia kotor, bau dan sedang menangis.” Maddie mengabaikan perkataan anak laki-laki tersebut dan kemudian mengambil tempat duduk di samping wanita itu. Wanita itu berusia sekitar 50 tahun dan kelihatannya ia banyak mengalami penderitaan. Benar apa yang dikatakan oleh anak laki-laki tadi bahwa wanita itu memang kotor, bau dan sedang menangis.

Yang terlintas dalam pikiran saya saat itu adalah segera membawa Maddie menjauh dari wanita tersebut. Tetapi saat itu ia sedang duduk di sisi wanita tersebut sambil memegang tangannya. Wanita itu memandang Maddie sambil tersenyum. Ketika kelompok anak-anak lain sudah pergi, Maddie memberikan pelukan hangat kepada wanita tersebut.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Maddie bernyanyi-nyanyi kecil dan ia nampak sangat bahagia. Saya menunggu apakah dia akan bercerita mengenai wanita tadi, tapi ia tidak berkata apa-apa. Akhirnya, ketika tiba di rumah saya bertanya padanya, “Maddie, mengapa engkau melakukan itu?” “Melakukan apa?” katanya. “Mengapa engkau memgang tangannya bahkan memeluknya? Sementara anak-anak lain menertawakan bahkan menjauhinya.” Maddie memandang saya lalu berkata, “Julie, orang-orang menertawakan dan memperlakukan Yesus sebagaimana anak-anak tadi memperlakukan si wanita. Tetapi Yesus mengasihi setiap orang dan mati bagi kita. Ketika melihat orang seperti wanita tadi, kita harus menyatakan kasih Yesus. Dia pasti akan merasa lebih baik.”

Saya berusia 20 tahun dan seorang mahasiswa yang dikenal pintar. Tapi di depan saya berdiri gadis kecil berusia empat setengah tahun yang ternyata lebih tahu dan melakukan lebih banyak daripada saya. Hari itu saya belajar sesuatu yang berharga tentang mengasihi, sebagaimana yang Yesus ajarkan. Semua itu saya peroleh gadis kecil berusia empat setengah tahun. Sekarang bukan waktunya lagi untuk hidup bagi diri sendiri. Nyatakanlah kasih Yesus kepada sesama agar mereka melihat dan mengenalNya melalui kita.

(sumber: Manna Sorgawi 11 Juni 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s