Susahnya Belajar Sabar

Bahan bacaan: Amsal 16:32; 25:15

Pada suatu malam, seorang ayah yang baru pulang dari kantor, bermaksud bercengkerama bersama istri dan anaknya yang sudah menginjak dewasa. Sembari minum teh hangat dan makan kue yang disediakan istrinya, dia betanya kepada anaknya, “Steven, berapa skor akhir dari pertandingan sepakbola tadi?” “2-0, Yah,” jawab anaknya. Tetapi, tiba-tiba HP di kantongnya bergetar dan dengan terburu-buru dia keluar ruangan untuk menerima panggilan telepon. Sebentar setelah itu, dia masuk lagi ke ruangan itu. “Berapa,Ven?” “2-0, Ayah,” jawab anaknya dengan nada sedikit tinggi. Namun ternyata HP itu bergetar lagi karena pembicaraan tadi terputus. Dengan segera pula dia keluar ruangan dan menerima panggilan telepon tersebut. Setelah selesai, dia masuk ruangan dengan wajah ceria. Pertanyaan yang sama diajukannya lagi kepada anaknya, “Maaf, berapa skornya, Ven?” “Ayah ini gimana sih, sudah dua kali tanya yang sama dan saya kan sudah menjawa, eh tanya lagi. Skornya 2-0, Yah!” jawab anaknya kesal. Karena mendengar jawaban seperti itu, si ayah memilih untuk pergi ke kamar mandi, mencuci baju dan mandi. Tetapi, karena ruang keluarga bersebelahan dengan kamar mandi, maka dia masih bisa mendegar sayup-sayup suara istrinya menasihati Steven. Kemudian, dia mematikan kran air, berhenti mencuci dan memasang teinganya untuk mendengarkan kata-kata istrinya. Istrinya berkata, “Dulu, sewaktu kamu kecil, sebelum Ayah mendapat pekerjaan tetap, dia yang menggendong kamu di pagi dan sore hari. Mengajak kamu berjalan kian kemari. Ibu dengarkan bahwa kamu banyak tanya kepada Ayah. Kadang kamu bertanya satu hal yang sama berkali-kali. Tetapi, Ayah dengna sabar menjawab dan menjelaskan kepadamu. Bahkan dia senang sekali ketika kamu terus bertanya. Itu karena dia mengasihimu. Sekarang, Ayah baru tiga kali bertanya kepadamu saja, kamu sudah marah.” Mendengar penjelasan itu, Steven hanya bisa tertunduk malu. Dan setelah ayahnya selesai mandi, dia pun menemuinya dan meminta maaf kepadanya.

Ada tiga hal penting dari kisah di atas yang bisa menjadi pelajaran bagi kita, yaitu: Pertama, kesabaran bukanlah hal yang mudah. Kadangkala kita menjadi putus asa untuk mengatasi ketidaksabaran kita sendiri. Tetapi, sesungguhnya Roh Kudus siap membimbing kita untuk bisa sabar, karena Dia menghendaki supaya kita memiliki kesabaran sebagai bagian dari buah Roh. Kedua, mengingat dan menyadari bahwa sebelumnya ada orang yang sabar terhadap kita, akan menolong kita untuk belajar sabar. Kita diajar untuk emngerti bahwa orang lain punya kelemahan dan kita pun punya kelemahan. Dengan demikian kesabaran bukan karena ingin balas budi, tetapi muncul karena kesadaran untuk menjaga keharmonisan di dalam hubungan dengan sesama. Ketiga, adanya kasih di dalam diri kita membangkitkan semangat kita untuk bertindak sabar kepada sesama.

(sumber: Manna Sorgawi 21 Juni 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s