Sound (Part 2)

Ketika bunyi ditransmisikan (baca:merambat) …

Setelah bunyi dihasilkan oleh sumber bunyi, bunyi akan ditransmisikan melalui sebuah medium. Karena kita hidup di bumi, maka medium yang paling sering adalah medium udara. Namun, jangan berpikir bahwa bunyi hanya dapat ditransmisikan melalui udara saja. Tidak. Bunyi juga dapat dirambatkan melalui medium padat ataupun cair. Tidak percaya? Buktinya kita masih dapat mendegarkan secara sayup-sayup suara teman yang memanggil ketika kita sedang menyelam di kolam renang. Bukti lainnya adalah metoda yang dipakai seorang prajurit untuk memprediksikan apakah musuh sudah mendekat atau tidak dengan menempelkan telingannya di tanah. Tapi saya yakin kita sepakat bahwa medium utama yang digunakan untuk mentransmisikan bunyi di ruang ibadah/gereja adalah medium udara.

Pada umumnya, gelombang bunyi akan bergerak/merambat mengikuti garis lurus kecuali jika ternyata gelombang tersebut mengenai permukaan benda lain sehingga mengalami pemantulan (refleksi) atau peredaman/penyerapan (absorpsi). Transmisi dari gelombang bunyi akan terpengaruh hanya jika ukuran dari permukaan/benda tersebut  besar dibandingkan terhadap panjang gelombang bunyi. Jika permukaannya kecil (dibanding panjang gelombangnya) maka objek tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap gelombang, bahkan objek tersebut dapat dianggap tidak ada. Oleh karena itu, frekuensi tinggi dapat dipantulkan ataupun diserap oleh permukaan yang kecil, tapi frekuensi rendah hanya dapat diserap atau dipantulkan oleh objek/permukaan yang sangat besar.

Untuk memperjelas prinsip di atas, mari kita analisa kejadian yang sering kita alami sehari-hari. Pernahkah Anda mengunjungi ruang latihan musik? Ruangan tersebut tertutup. Ketika kita berada di dalam ruangan tersebut maka kita dapat mendengarkan banyak suara dari berbagai alat musik, sebut saja bass, drum, gitar, keyboard dan juga dari vokal manusia. Bandingkan suara yang Anda dengar ketika berada di luar ruangan tersebut. Maka sebagian besar bunyi yang kita dengar hanyalah bunyi-bunyian yang nge-bass. Dalam bahasa Sunda, biasanya kita mengatakan “suarana ngabekem“. Peristiwa itu membuktikan bahwa bunyi dengan frekuensi rendah (misal bass drum dan bass gitar) akan dapat menembus dinding ruangan studio tersebut (tentu saja hal ini bergantung pada jenis penyerap yang digunakan studio juga), sedangkan bunyi frekuensi tinggi seperti gitar akan lebih teredam. Hal ini disebabkan karena frekuensi rendah memiliki panjang gelombang yang lebih panjang, sehingga dimensi dinding tidak dapat meredam seluruhnya.

Setelah bunyi dihasilkan dan juga ditransmisikan melalui medium, maka bunyi akan diterima oleh si penerima. Penerima di sini sangat relatif dan fleksibel bergantung pada keseluruhan sistem yang sedang berjalan. Penerima dapat saja berupa telinga manusia maupun sebuah instrumen seperti microphone.

Pada manusia, gelombang bunyi yang pada hakekatnya merupakan perubahan tekanan akan menggetarkan gendang telinga. Pergetaran gendang telinga kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal yang dirambatkan melalui sistem syaraf ke otak sehingga kita dapat mengenalinya sebagai bunyi. Serupa dengan proses di atas, pada microphone perubahan tekanan akan mempengaruhi diafragma untuk bergetar. Pergetaran diafragma kemudian diubah menjadi sinyal elektrik yang dikirimkan ke sound system, misalnya sebuah loudspeaker.

Jadi, proses penerimaan gelombang bunyi di penerima dapat terjadi dengan mekanisme yang berbeda. Namun, pada umumnya memiliki prinsip yang hampir sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s