Hati-Hati dengan Pikiran

Bahan bacaan: Filipi 4:8; 2 Korintus 10:5

Seorang murid sedang belajar pada seorang guru yang terkenal saleh. Waktu itu, hal yang sedang dipelajari adalah tentang kekudusan. Suatu kali, sang guru mengajak muridnya berjalan kaki di jalan menuju sebuah desa di bawah bukti tempat mereka belajar. Jalan itu sepi, di samping kiri-kanannya terhampar kebun kelapa. Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang perempuan yang terpeleset dan jatuh. Setelah dekat, sang guru bertanya kepada perempuan itu, “Apa yang bisa saya bantu?”
“Terima kasih, Pak. Tolong papah saya sampai ke rumah papan di sebelah sana, kaki saya sakit sekali,” jawab perempuan itu sambil meringis kesakitan. RUmahnya masih berjarak sekitar dua ratus meter. Tanpa rasa sungkan, sang guru langsung memapah perempuan tersebut. Setelah menolong perempuan itu, mereka pun melanjutkan perjalanan. “Kamu kok diam saja, melamun ya?” tanya guru kepada muridnya. “Tidak Guru, saya tidak melamun, saya hanya bingung,” jawabnya. “Bingung kenapa?” tanya gurunya. “Begini Guru, bukankah kita ini sedang mempraktekkan pelajaran tentang kekudusan yang Guru ajarkan? Tetapi, tadi Guru malah memapah seorang perempuan. Bukankah perbuatan itu menjadikan kita tidak kudus?” kata murid itu. Sang guru pun menjawab, “Kata siapa saya memapah seorang perempuan. Tadi saya baru saja memapah seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan, supaya dia bisa sampai ke rumahnya.” Murid itu pun hanya terdiam dan masih kelihatan bingung. Sang guru melanjutkan, “Sesungguhnya , kamu yang masih memapah perempuan itu sampai saat ini di dalam pikiranmu. Berhati-hatilah dengan pikiranmu.” Mendengar lanjutan penjelasan itu, murid tersebut terbuka pikirannya dan mengerti bahwa sesungguhnya ketidakkudusan dimulai dari pikiran.

Pikiran adalah bagian jiwa manusia yang sangat penting, sebab dari situlah segala aktivitas dimulai. Maka, cara terbaik melumpuhkan manusia adalah melalui pikiran dan itulah yang dilakukan oleh ilah zaman ini. Orang yang pikirannya dikuasai ilah zaman ini akan menolak Injil dan hanya menghasilkan perbuatan jahat. Firman Tuhan berbunyi, “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat.” (Kol 1:21). Iblis pernah memasuki pikiran Petrus untuk menggagalkan penderitaan dan penyaliban yang harus dialami Yesus sebagai cara untuk menghapus dosa manusia. Dan, Yesus mengusirnya. Segala perbuatan jahat para pemimpin agama Yahudi kepada Yesus juga dimulai dari pikiran mereka. Yesus pun tahu apa yang mereka pikirkan. Oleh sebab itu, tanpa ragu Paulus menasihatkan supaya setiap orang percaya memikirkan perkara-perkara yang mulia. Mari kita taklukkan pikiran kita kepada Kristus, sehingga kita disanggupkan untuk memikirkan dan melakukan perkara mulia, yang memberkati banyak orang.

Adalah bija untuk memperhatikan pikiran kita karena itu akan menjadi kata-kata dan perbuatan.

(sumber: Manna Sorgawi, Kamis 8 Juli 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s