Sound System (Part 2: What is “good” sound?)

Apa yang dimaksud dengan “good” sound ?

Tiga parameter utama kualitas suara adalah fidelity (kemiripan), intelligibility (kejelasan/dapat dimengerti), dan loudness (kekerasan). Kualitas suara dalam sebuah ibadah gereja akan sangat bergantung dari kualitas sumber bunyi, sound system dan akustik ruangan. Dengan semakin meningkatnya kualitas suara dari berbagai sistem dan perangkat yang ada (Hi-Fi music system, broadcast TV, radio, motion picture theater, konser, teater, dsb.), maka ekspektasi kita terhadap kualitas suara dalam ibadah pun cenderung meningkat.

Kemiripan (fidelity) dari suara terutama ditentukan oleh respon frekuensi dari suara yang sampai di telinga pendengar. Artinya, suara disebut memiliki fidelity yang tinggi ketika suara yang tiba di telinga pendengar memiliki respon frekuensi yang sama dengan suara aslinya yang keluar dari instrumen/vokal. Semua komponen dalam audio chain memiliki kontribusi dalam hal ini: keterbatasan salah satu komponen saja dapat membatasi kemiripan (fidelity) suara yang dihasilkan oleh sistem. Namun, penggunaan high fidelity sound system saja tidak menjamin suara yang sampai ke pendengar memiliki fidelitas yang tinggi. Karena harus diperhitungkan juga pengaruh dari akustik ruang. Akustik ruang yang buruk dapat menyebabkan ketidakseimbangan frekuensi yang buruk akibatnya.

Kejelasan (intelligibility) dari suara ditentukan oleh signal-to-noise ratio (SNR) rata-rata dan direct-to-reverberant sound ratio pada telinga pendengar. Di dalam ibadah gereja, “sinyal” utama merupakan suara manusia (speech/spoken word). Sedangkan “noise”-nya merupakan ambient noise dalam ruangan dan juga noise elektrik yang berasal dari sound system. Agar speech dapat dimengerti dengan tingkat kejelasan yang maksimal dan usaha yang minimal, level speech setidaknya harus 20 dB lebih keras dari noise di setiap telinga pendengar. Persyaratan ini menuntut level suara manusia yang masuk ke microphone setidaknya harus 30 dB lebih keras dari ambient noise yang masuk ke microphone tersebut.

Direct-to-reverberant ratio ditentukan oleh pengarahan sistem loudspeaker dan karakteristik akustik ruangan (apakah bergema atau tidak). Reverberation time merupakan selang waktu dimana suara masih berlanjut dalam sebuah ruangan bahkan setelah sumber bunyinya berhenti. Jika level reverberation sound cukup tinggi dapat menyebabkan kesulitan untuk membedakan antaran akhir dari satu kata dengan awal dari kata berikutnya. Reverberation dapat direduksi hanyal oleh absorptive acoustic treatment. Jangan pikir bahwa dengan menaikkan level sound system akan memperbaiki keadaan. Menaikkan level sound system akan menaikkan level reverberation juga. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan directional loudspeaker sehingga memungkinkan suara untuk lebih tepat mengarah ke pendengar dan menjauh dari dinding dan permukaan-permukaan reflektif lainnya yang dapat mengakibatkan reverberation.

Kekerasan (loudness) dari speech atau music di posisi pendengar terjauh harus cukup untuk mencapai level kenyamanan untuk speech, dan juga tipe-tipe musik tertentu tanpa distorsi dan feedback. Kekerasan ditentukan oleh dynamic range dari sound system, potential acoustic gain (PAG), dan akustik ruangan. Dynamic range dari sebuah sound system merupakan perbedaan level antara level noise floor dari sistem dan level suara terkeras yang dapat dihasilkan tanpa terdistorsi. Hal ini hanya dibatasi oleh penguatan yang dapat diberikan power amplifier dan efisiensi loudspeaker.

Intermezzo: Noise Floor, apaan tuh?

Noise floor merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut sinyal yang dihasilkan dari jumlah seluruh sumber noise yang ada dan sinyal yang tidak diinginkan (wikipedia.org)

PAG merupakan ukuran seberapa besar gain/amplifikasi yang dapat diberikan sebuah sound system sebelum feedback terjadi. PAG sebagian kecil bergantung kepada tipe komponen sistem, dan sebagian besar kepada lokasi/penempatan microphone, loudspeaker, pembicara dan juga pendengar.

Kondisi akustik ruang juga memainkan peran yang cukup besar dalam hal kekerasan (loudness) suara. Secara spesifik, reverberant sound akan memberikan tambahan level pada soundfield indoor. Jika reverberation tidak begitu besar, maka kekerasan akan meningkat dalam batas yang masih wajar. Namun, jika reverberation berlebihan, secara substansial kekerasan bertambah tetapi aspek kemiripan dan kejelasan menjadi menurun.

Walaupun suara yang disebut baik ditentukan oleh si pendengar sendiri secara kualitatif, tetapi sebenarnya ada desain dan metoda pengukuran secara kuantitatif yang dapat digunakan untuk memprediksikan dan mengevaluasi kinerja secara akurat.

One thought on “Sound System (Part 2: What is “good” sound?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s