Benarkah Engkau MelayaniKu?

Bahan bacaan: 2 Timotius 2:4

Engkau berkata bahwa engkau melayaniKu, engkau mengaku sebagai hambaKu. Di gereja, jemaatKu menganggapmu sebagai pelayan yang setia, yang telah memberikan banyak waktu dan tenaga bagi pekerjaanKu. Aku mengakui komitmenmu yang tinggi terhadap pekerjaanKu. Aku juga tahu betapa banyak jam tidurmu yang engkau korbankan untuk melayaniKu. Engkau mengajarkan firman kepada jemaatKu, menguatkan yang lemah, dan menghibur yang susah. Terkadang engkau berkhotbah dan jemaatKu diberkati melalui khotbahmu.

Waktu terus berjalan, banyak kejadian di dalam pelayanan yang membuatmu mulai tidak bergairah. Engkau menganggap bahwa apa yang engkau lakukan selama ini sia-sia. Engkau protes karena merasa diperlakukan tidak adil dan jerih lelahmu tidak diperhitungkan. Engkau merasa tidak dihargai, dan tidak mendapatkan perlakuan seperti yang engkau harapkan. Engkau kecewa dan marah karena usulmu tidak diterima. Hatimu penuh kesesalan dan semua itu terpancar dari wajahmu. Kini Aku bertanya kepadamu, “Benarkah engkau melayaniKu, atau melayani dirimu sendiri?” Cobalah engkau renungkan, dengan sikapmu yang demikian, bukankah engkau lebih mementingkan perasanmu sendiri daripada pekerjaanKu? ENgkau menuntut untuk dipahami, engkau mengharapkan agar segala sesuatunya berjalan seperti yang kau inginkan. Karena semua itu tidak engkau dapatkan, engkau marah dan meninggalkan pekerjaanKu. Engkau pergi kian ke mari dan mulai menebarkan pengaruh negatif kepada anak-anakKu yang lain. Aku sedih melihatmu, anakKu. Ternyata engkau bukan melayaniKu, tetapi melayani dirimu sendiri.

Sebagai pelayan Tuhan, kita perlu mengajukan pertanyaan yang sama terhadap diri sendiri. “Benarkah kita melayani TUhan, atau melayani diri sendiri?” Hamba yang sesungguhnya tidak mengejar kenyamanan diri, meminta perhatian, ataupun penghargaan. Semua yang ia lakukan hanya mempunyai satu tujuan, yaitu agar orang mengenal Yesus dan memuliakan Dia. Seorang hamba tidak kecewa, apalagi tersinggung ketika tidak dihargai. Ia akan selalu bersikap dewasa dalam segala hal, takut terhadap dosa dan selalu mengejar hidup damai. Sesungguhnya, hamba yang demikianlah yang berkenan pada Tuhan.

John Wesley yang hidup pada tahun 1703-1791 pernah mengemukakan sebuah pernyataan, “Berikan kepada saya seratus pengkhotbah yang tidak gentar terhadap apapun kecuali dosa, dan yang tidak merindukan apa pun kecuali merindukan Allah, dan saya tidak peduli apakah mereka itu pendeta atau orang awam, karena orang-orang semacam itu sajalah yang akan menggoncangkan pintu Neraka dan mendirikan Kerajaan Allah di dunia ini!.” Mari kita membenahi hidup kerohanian kita, carilah Tuhan dan bencilah dosa. Dengan demikian pelayanan kita akan membawa dampak yang besar.

Seorang hamba akan mengabaikan kenyamanan dirinya, jika itu akan menyenangkan Tuannya.

Sumber: Manna Sorgawi 27 Juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s