Panggilan Sebagai Makhluk Sosial

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah bertanya iseng pada beberapa teman saya, “Apa sih arti sukses menurut kamu?”. Sebuah pertanyaan sederhana dan esensial ini menuai banyak jawaban yang beragam dan berbeda antara teman yang satu dengan yang lainnya.

Ada yang menjawab, “sukses berarti menjadi kaya dan memiliki jabatan tinggi”.

Sebagian lagi mungkin menjawab, “sukses berarti saya bisa membahagiakan keluarga saya, mengajak orang-orang yang saya cintai berlibur ke tempat wisata terkenal di dunia.”

Tapi yang menarik perhatian saya adalah ada teman saya yang menjawab kurang lebih begini: “Makna sukses bisa macem-macem. Bisa sukses sebagai murid, sukses sebagai guru, sukses sebagai ayah, sukses sebagai ibu rumah tangga, sukses sebagai anak, dst.” Dia ternyata memandang sebuah kesuksesan itu terbentuk dari adanya sebuah identitas yang telah dijalankan secara benar. Jadi, seseorang bisa sukses sebagai ayah sekaligus sebagai pengusaha ketika dia menjalani tugas dan tanggung jawabnya dengan serius dan baik.

Manusia hidup di dunia dapat memiliki banyak identitas. Identitas-identitas ini akan melekat ketika manusia lahir di dunia dan tumbuh berkembang hingga dewasa. Namun, ada juga identitas yang telah melekat pada diri kita bahkan sebelum kita dilahirkan, yaitu identitas sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Lho kok bisa? Coba saja bayangkan. Sejak masih dalam kandungan hingga tua nanti dan meninggal dunia, hidup kita senantiasa membutuhkan orang lain. Manusia tidak dapat hidup sendiri. Mungkin kita semua tidak sadar akan identitas ini, tapi identitas ini sudah mutlak adanya dan tidak dapat dilepaskan dari manusia.

Sebuah identitas dalam hidup manusia memberi sebuah peranan dan tanggung jawab tertentu untuk dilakukan. Misalnya saja, identitas sebagai warga negara menuntut seseorang untuk membela negara, membayar pajak, berpartisipasi dalam membangun negara, dsb. Demikian juga identitas manusia sebagai makhluk sosial memberikan sebuah panggilan dan tanggung jawab pada setiap diri kita agar memiliki jiwa sosial untuk saling membantu dan peduli dengan orang lain serta saling menghormati tanpa memandang perbedaan yang ada.

Ironisnya, jiwa sosial yang seharusnya dimiliki manusia itu makin lama makin terkikis. Walaupun sejak dari bangku SD kita sudah dicekoki dengan istilah manusia sebagai makhluk sosial dalam pelajaran PPKn, realita kehidupan menunjukkan bahwa di jaman sekarang ini sudah sangat sedikit manusia yang mau peduli terhadap manusia lainnya. Budaya yang ada sekarang bahkan merupakan budaya yang cenderung “masa bodoh” terhadap orang lain. Egoisme merajalela. Seseorang tidak jarang melakukan sesuatu yang merugikan orang lain dalam mencapai tujuannya. Banyak manusia merasa sangat hebat dan merasa tidak membutuhkan orang lain. Padahal, keberhasilan dalam hidup manusia bukanlah hasil karya dirinya sendiri. Tampaknya, manusia sudah tidak mempunyai kepekaan sosial terhadap orang lain. Yang tersisa dalam dirinya hanyalah nafsu untuk memuaskan diri sendiri.  Homo homini lupus. Manusia sudah menjadi serigala bagi sesamanya.

Banyak manusia memang memaknai kesuksesan sebagai sesuatu yang bersifat egosentris. Seringkali juga kita memikirkan makna sebuah kesuksesan sebagai sesuatu yang bisa diukur oleh status dan materi misalnya. Itu semua sah-sah saja. Tidak salah untuk mengejar impian. Tapi sebagai manusia janganlah pernah lupa akan makna eksistensi kita sebagai makhluk sosial. Kita juga harus punya tekad dan komitmen untuk berani melakukan sesuatu yang nyata. Tekad dan komitmen ini akan terbentuk jika kita mau membuka hati dan pikiran kita, melihat dunia sebagaimana adanya dan berempati terhadap orang lain. Dengan adanya empati, akan muncul kepedulian. Ingat bahwa diri kita manusia bukanlah siapa-siapa tanpa kehadiran orang lain.

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku yang bercerita tentang John Wood, seorang eksekutif Microsoft yang bisa dikatakan telah memiliki hidup yang lebih dari cukup.  Namun, satu kunjungannya ke sebuah desa terpencil di Nepal telah membuka mata John. Desa tersebut dihuni oleh orang-orang buta huruf dengan mayoritas anak-anak putus sekolah. Perpustakaan sekolah yang ada di desa-desa hampir tidak mempunyai buku sama sekali yang bisa dibaca oleh anak-anak. Hal ini memunculkan gagasan besar di benak John untuk membangun ruang baca yang akhirnya dinamai Room to Read di negara-negara miskin. Dia akhirnya memilih untuk meninggalkan Microsoft demi menjalankan gagasan besarnya tersebut. Dia merasakan apa yang selama ini dijalaninya di Microsoft bukan merupakan impian dan bentuk kesuksesan yang diinginkannya. Sekarang dia sudah mendirikan lebih dari 3000 perpustakaan di Asia.

Tindakan nyata yang dilakukan oleh John Wood merupakan cerminan dari tekad, komitmen dan tanggung jawab yang dimilikinya sebagai makhluk sosial. Bagaimana dengan kita? Mungkin kita tidak perlu se-ekstrim John. Kita bisa mulai dengan apa yang ada di lingkungan sekitar kita. Sebuah perjalanan jauh selalu dimulai dari langkah kecil. Mulailah dari diri sendiri. Jangan tunggu orang lain memulainya. Seorang John Wood pun memulai dengan usaha kecil yaitu mengirim email ke semua contact list yang dia miliki. Selama kita bersungguh-sungguh, selalu ada jalan untuk melakukannya. Jangan berpikir bahwa tindakannya harus berupa pengorbanan materi. Tidak. Tidak selalu harus seperti itu. Kita mungkin bisa mulai dari tidak merokok di depan anak-anak dan orang tua atau memberikan tempat duduk di bus kepada ibu hamil. Atau bahkan dengan hanya memberikan senyuman dan salam yang hangat kepada orang yang kita temui. Intinya kita belajar untuk membuang arogansi dan menumbuhkan empati dalam diri kita.

John Wood telah sukses sebagai makhluk sosial. Kehadirannya di dunia ini telah membawa perubahan besar bagi orang lain. Einstein pernah mengatakan: “Cobalah untuk tidak menjadi manusia yang sukses. Jadilah manusia berharga.” Bahkan seorang fisikawan telah menyadari bahwa menjadi berharga bagi orang lain merupakan sukses sejati yang dapat mendatangkan sebuah kebahagiaan batin. Sekarang kita semua dihadapkan pada pertanyaan yang akan membentuk persepsi baru kita tentang makna sebuah kesuksesan :

“Maukah kita menjawab panggilan dan tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial?”

“Maukah kita memasukkan panggilan dan tanggung jawab tersebut ke dalam to do list kehidupan kita untuk mencapai kesuksesan dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk kesuksesan?”

Oleh: Jeffrey Kurniawan

(tulisan ini pernah dimuat di http://www.fokal.info)

One thought on “Panggilan Sebagai Makhluk Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s