Sudahkah yang terbaik ku berikan?

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, saya pernah belajar bahwa periode musim kemarau di Indonesia berlangsung dari bulan Mei hingga bulan September , sedangkan musim hujan dari bulan Oktober hingga bulan April . Namun, seiring dengan atmosfer bumi yang semakin panas, tampaknya cuaca di Indonesia sekarang sudah tidak bisa lagi diprediksikan. Pemanansan global telah meyebabkan perubahan iklim. Di tengah situasi cuaca yang sulit diprediksi ini, kita dituntut untuk selalu siap menghadapi cuaca terburuk. Dalam peribahasa yang kita pelajari sewaktu SD adalah: sedia payung sebelum hujan.

Situasi cuaca yang tidak menentu sebenarnya sangat mirip dengan kedatangan Yesus yang kedua kali. Tidak ada seorang pun yang tau waktunya selain Bapa sendiri. Mungkin saja hari ini, mungkin saja besok, atau mungkin saja seribu tahun lagi. Tidak ada yang tahu waktunya sehingga kita harus siap senantiasa. Datangnya Yesus dalam Alkitab diumpamakan sebagai kedatangan seorang maling di malam hari. Makna di balik perumpamaan ini adalah bahwa kita harus selalu berjaga dan sigap ketika “Sang Maling” itu datang. Yang akan diambil oleh “Sang Maling” ketika Dia datang bukanlah emas atau uang, akan tetapi kekayaan yang lebih berharga dari materi yaitu waktu. Kedatangan Yesus yang kedua kali juga sering diumpamakan sebagai kedatangan mempelai pria yang sangat ditunggu-tunggu oleh sang mempelai wanitanya. Perumpamaan yang satu ini ingin mengatakan bahwa sikap ideal orang Kristen dalam menyambut kedatangan-Nya adalah mempersiapkan yang terbaik bagi Sang Mempelai Pria. Pertanyaan yang harus kita jawab sekarang adalah “Sudah siapkah kita menyambut kedatangan-Nya?” dan “Sudahkah kita memberikan yang terbaik dalam hidup ini?”

Seringkali kita hidup di dunia seakan-akan kita akan hidup seratus tahun lagi. kita terlalu sibuk untuk mengejar kesuksesan materi, prestise, dan kekuasaan sehingga tak jarang kita lupa akan Sang Pemberi Anugerah yang telah memberikan segalanya bagi kita. Atau ketika ingat akan Dia pun, mungkin saja kita akan berpikir begini: “Ah, nanti saja kalau sudah tua baru aku kasih waktu banyak buat Tuhan.” Manusia juga sudah semakin lupa kalau dia hidup berdampingan dengan orang lain. Kalaupun ingat, manusia hanya ingat akan orang-orang di dekatnya saja, seperti keluarga, teman sepermainan, dan teman segereja. Di luar mereka, “Oh, i don’t care”. Jika demikian, apakah kita sudah memberikan yang terbaik dalam hidup ini? Saya rasa kita semua sepakat bahwa jawabannya adalah belum dan tentu saja kita belum siap meyambut kedatangan “Sang Maling” jika masih berperilaku seperti itu.

Lantas, hidup seperti apakah yang harus dimiliki oleh kita dalam bersiap menyambut kedatangan-Nya? Jawabannya sangat sederhana: hidup seperti yang telah diperintahkan dalam Matius 23:37-39 yaitu hidup yang secara tulus mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Saya yakin bahwa kita semua sudah mengerti bagaimana sikap hidup yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Tidak mudah memang. Tetapi itulah yang harus kita siapkan dalam menyambut kedatangan-Nya.

Jangan berpikir bahwa Tuhan menuntut kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang di luar kemampuan kita. Tidak sama sekali. Tuhan hanya ingin kita memulai dari hal yang kecil, dari diri sendiri, dan dari saat ini juga. Banyak hal yang dapat kita lakukan dengan keadaan di sekeliling kita, dan ketika kita melakukannya dengan hati yang tulus dan mengandalkan Tuhan, sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan akan menjadi pekerjaan “besar” dan menjadi kesaksian yang hidup serta bermakna bagi orang lain.

Saya pribadi sangat mengerti dan memahami bahwa melakukan berlipat-lipat lebih sulit daripada sekedar mengatakannya. Di sinilah, peran orang di sekitar kita dibutuhkan. Mungkin gereja, sahabat, ataupun anggota keluarga. Mari kita saling mengingatkan setiap waktu, “Sudahkah yang terbaik kau berikan kepada Yesus Tuhanmu?”. Semoga pertanyaan ini selalu merhema dalam hati kita sehingga kita selalu memberikan yang terbaik segala sesuatunya dalam hidup ini sehingga ketika Dia datang, kita dapat berkata, “Aku siap, ya Tuhan”.

Jeffrey Kurniawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s