Percayalah Kepada Tuhan

Bahan bacaan: Yesaya 26:4; 41:13

Ada seorang pendaki gunung yang ingin membuktikan ketangguhannya. Setelah beberapa tahun berlatih, ia merasa yakin dengan kemampuannya untuk mengatasi segala rintangan di dalam mendaki gunung.

Dalam sebuah pendakianbersama lima orang temannya, ia memutuskan untuk meneruskan pendakian terlebih dahulu sementara teman-temannya masih tidur. Meskipun mendaki gunung pada malam hari sangatlah tidak lazim, lagipula ia melakukannya seorang diri, namun ia tetap bersemangat. Ia membawa tali dan pengait di punggungnya ketika ia naik dan cahaya rembulan membantunya cepat naik ke atas. Rasa percaya dirinya semakin besar ketika mendekati puncak, tapi sayangnya, kabut tebal dan salju mulai nampak di sekitarnya. Cuaca memburuk, nampaknya badai musim dingin sedang datang. Beberapa menit kemudian ia tidak bisa lagi melihat apa-apa. Mau turun tidak mungkin lagi. Akhirnya ia menyiapkan tali di punggungnya dan menancapkan beberapa pengait. Ia terus mendaki melalui batu-batu terja dengan harapan badai akan segera berlalu. Sementara bergerak dalam kgelapan, ia tiba pada sebuah batu. Saat itu ia memutuskan untuk meluncur turun melalui punggung gunung.  Berkat tali-tali yang ada di tubuhnya, ia masih hidup meskipun saat itu tubuhnya menggelantung di udara dan tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi, perlahan-lahan udara malam yang dingin menyusup ke tubuhnya hingga tulang-tulangnya mulai terasa kaku. Mau mengenakan jaket tebalnya tidak mungkin lagi, karena ransel dan perlengkapan lainnya telah tiada. Satu-satunya benda yang terselip di ikat pinggangnya saat itu hanyalah sebilah pisau. Dalam keputusasaan ia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku.

Ia merasakan dorongan yang kuat di dalam hatinya untuk memotong tali itu. “Memotong tali?” batinnya. “Jika aku memotong tali ini, berarti aku akan jatuh ke atas bebatuan terjal dan mati.”, gumamnya. Namun dorongan untuk memotong tali di tubuhnya semakin kuat. Tapi karena takut jatuh, maka ia mengurungkan niatnya. Beberapa hari kemudian, seorang pendaki lain menemukan tubuh pendaki itu mati tergantung karena kedinginan. Padahal, jarak antara orang yang tergantung itu dengan tanah hanya beberapa meter. Seandainya ia memotong tali itu, ia bisa tiba di bawah dan menyalakan api untuk menghangatkan tubuhnya.

Kita mungkin bertanya, mengapa seolah-olah Tuhan membiarkan masalah yang berkepanjangan tanpa ada pertolongan yang nyata? Mengapa Dia membiarkan kabut tebal menghalangi perjalanan hidup kita? Ada kalanya, keraguanlah yang membuat kita tidak merasakan pertolongan-Nya. Seumpama besi, sesungguhnya Tuhan sedang menempa, membentuk dan mengasuh kita agar kita percaya sepenuhnya kepadaNya. Jika kita percaya kepadaNya, maka kita akan berani “memotong tali pengait” itu, merelakan apa yang selama ini kita pegang erat, lalu jatuh ke dalam tangan pengasihan Tuhan.

sumber: Manna Sorgawi 17 Juni 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s