Tuesdays with Morrie

Saya baru selesai membacanya tadi malam. Pagi ini, ketika saya mencari image cover book nya untuk disisipkan di blog, ternyata saya menemukan satu blog, Si Tuan Malam demikian title blog nya. Di blog tersebut, sudah terdapat ulasan novel ini. Karena saya merasa bahwa isi blog tersebut sangat bagus dan inspiratif, maka untuk resensi buku Tuesdays with Morrie, saya akan mengutip artikel dari blog Si Tuan Malam yang berjudul “Tak selalu menjadi nomor satu”. Itung-itung ini wujud perkenalan saya dengan Si Tuan Malam. Selamat membaca!

***
Sebuah buku yang memikat, mengajarkan tentang makna hidup, saya baca baru-baru ini. Judulnya Selasa Bersama Morrie. Mitch Albom, pengarang kisah nyata ini mengisahkan pertemuan-pertemuannya di beberapa hari Selasa dengan Morrie, mantan dosennya selama kuliah sebelum ia meninggal akibat Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Salah satu nasihat Morrie yang penting dalam salah satu Selasa pertemuan mereka adalah ketika ia menyatakan bahwa tak ada salahnya jikalau kita menjadi nomor dua.

Kita sering menyatakan diri sebagai lebih dari pemenang. Kita biasa berpikir kalau kita ditentukan menjadi nomor satu. Kita, orang Kristen, seolah-olah mengharamkan kekalahan. Anggapan ini ada salahnya. Perhatikanlah Alkitab. Ayat yang menyebut kita lebih dari orang yang menang itu disebabkan oleh Dia yang telah mengasihi kita. Kasih-Nya, bukan pencapaian kita, yang menjadikan kita lebih dari pemenang di hadapan Allah.

Di kancah dunia ini, sering kita kalah. Dunia ini kejam dan kerap tak adil memperlakukan siapa saja. Namun, itu tak semestinya membuat kita mengecilkan pengabdian kita. Morrie berkata: “Abdikan dirimu untuk mencintai sesama, abdikan dirimu untuk masyarakat sekitar dan abdikan dirimu untuk menciptakan sesuatu yang mempunyai makna dan tujuan bagimu.”

Saat kita terus mengabdi dan memberikan yang terbaik, tapi dunia tak menjadikan kita nomor satu, tak apa-apa. Karena di dunia kita memang diciptakan untuk tak selalu menjadi nomor satu. (*)

“Pengabdian yang luar biasa tak selalu mendatangkan pengenangan yang luar biasa oleh dunia akan hidup seseorang.”

(sumber: http://tuanmalam.blogspot.com/2010/06/tak-selalu-menjadi-nomor-satu.html)

***

Itulah sedikit opini yang saya kutip dari blog Si Tuan Malam.Tuesdays with Morrie merupakan suatu pengalaman pribadi yang dialami oleh Mitch Albom sendiri. Mengisahkan pertemuan kembali antara dirinya dan sang dosen yang pernah mendidiknya saat masih duduk di bangku kuliah. Pertemuan ini terjadi ketika Morrie divonis menderita penyakit ALS. Suatu pertemuan yang mungkin sudah disuratkan. Pertemuan rutin mereka setiap hari Selasa selain merupakan momen untuk saling belajar dan melepas rindu, akhirnya menjadi tesis akhir yang digarap bersama. Novel inilah wujud nyata dari tesis akhir mereka. Suatu tesis mengenai kehidupan dan pembelajaran yang tidak akan pernah berhenti.
Membaca novel ini, kita akan menemukan bahwa sungguh luar biasa seorang Morrie, yang secara fisik sudah tak berdaya, tapi secara spirit dirinya masih memiliki suatu pengaruh yang sangat besar dan positif bagi orang-orang di sekitarnya. Novel ini memberikan inspirasi dan makna di setiap sisi kehidupan kita, mulai dari kita lahir hingga kita mati. Satu hal yang saya sangat sukai bahwa Morrie di ambang kematiannya, dia menyadari bahwa sungguh hanya satu yang diperlukan oleh manusia di dunia, yaitu cinta kasih dan bukan harta-benda, kekuasaan dan kebahagiaan semu lainnya.

Sungguh merupakan satu novel yang wajib dibaca oleh siapapun kita, selama kita masih meyakini bahwa diri kita merupakan makhluk ciptaan Sang Pencipta yang paling sempurna. Rasanya hidup kita masih belum sempurna tanpa melakukan apa yang dilakukan Morrie dalam kehidupannya, yaitu cinta kasih.
 

2 thoughts on “Tuesdays with Morrie

  1. Senang rasanya tahu bhw ada juga yg suka dgn buku ini🙂 it is a trully inspiring story. I “forced” my middle school students to read this book and write essays on how to apply Morrie’s lessons in their lives. Walaupun awalnya terpaksa, mereka akhirnya mengakui bhw buku ini sangat bagus.

    • Indeed, it is a good book🙂 Sudah baca novel Mitch Albom lainnya? Menurut saya tidak kalah inspiratifnya.🙂
      Btw, Do you have a blog too?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s