andaikan Sang Ibu (Pertiwi) dapat bicara

Untuk kau semua, segelintir orang berjiwa kerdil yang ingin memecah belah diriku. Aku, Sang Ibu Pertiwi, ingin bicara padamu:

Sudah puaskah kau, kemarin kau main bakar-bakaran, sekarang kau sudah mulai berani mencabut nyawa orang? Setelah sekian lama aku diam dan membisu terhadap semua kelakuanmu yang telah mencabik-cabik hatiku, tampaknya kau tidak pernah mau bertobat. Kau terus saja menganggap penting semua misimu yang sebenarnya adalah pembodohan bagi kamu sendiri. Apa yang kau inginkan sebenarnya? Apakah kau baru puas setelah aku benar-benar mati? Mungkin, kau pikir semua tindakanmu itu demi kebaikanku. TIDAK! Tanya saja hatimu sendiri? Kau hanya demi kepentingan dirimu dan kelompokmu saja. Jika kau masih berpikir kau melakukannya untuk aku, aku katakan sekarang bahwa kau hanya seorang bodoh yang telah dicuci otak oleh siapapun yang telah menumbuhkan pemikiran itu di otakmu itu.

Sekarang dengarkan aku, hai penghancur-penghancur moderen! Jauh sebelum kau dilahirkan, aku, Indonesia, yang sering kau panggil Ibu Pertiwi ini, menyaksikan berjuta-juta jiwa yang mendiamiku berjuang demi satu tujuan untuk merdeka dan menjadi bangsa yang satu. Aku adalah bangsa yang berhasil diraih oleh jutaan liter cucuran darah leluhurmu, jutaan doa para pejuang, dan keinginan untuk bersatu dari jutaan rakyat di negeri ini. Jadi, jangan sekali-kali kau pikir bahwa aku hanyalah tempat bagi kelompokmu saja, dan kelompok lain tidak dibiarkan hidup tentram dan damai di sini. Bersahabatlah! karena aku adalah simbol kebesaran dan keberagaman. Tidak tahukah kau? Dengan keberagaman suku, agama, etnis dan budaya yang kumiliki ini,  seharusnya bisa menjadi teladan bagi negara-negara lain di dunia, tapi sekarang …. Lihatlah, kau sudah menghancurkan segala impianku itu. Aku sekarang menjadi bahan pergunjingan dunia, bahkan orang-orang dari negeri lain seringkali enggan mengunjungiku lagi. Mereka merasa tidak aman. Janganlah kau bangga sedikitpun atas kondisi seperti ini, sebagian dari penyebabnya adalah dirimu! Kau, anak durhaka, seharusnya tidak pantas lagi menghadapku, aku sudah muak melihatmu. Namun, aku sebagai Ibu, selalu, selalu dan selalu, memberikan kesempatan kau untuk bertobat.

Jika kau masih tetap bersikukuh ingin menebar benih kebencian di diriku, ingatlah baik-baik, kau tidak akan dapat melakukannya dengan mudah. Karena masih banyak yang peduli padaku, dan rela berjuang seperti yang telah diteladankan oleh para pahlawannya dahulu demi kesatuanku. Selain mereka, aku juga tahu bahwa Allah manapun yang kau sembah tidak akan meridhoi segala rencana dan kelakuanmu yang biadab itu. Kau harus malu pada Sang Penciptamu itu dan jangan sekali-kali kau mengatakan semua kebiadabanmu itu demi kehendak-Nya. Karena aku sendiri sangat tahu, Allah yang disembah oleh bangsaku merupakan Allah yang mencintai kedamaian. Jangan pikir Dia akan diam saja atas semua kelakuanmu itu.

Aku nasehati kau, daripada kau sibuk memikirkan cara untuk kepentingan kelompokmu yang tidak berdasar itu, lebih baik kau memikirkan saudara sebangsamu yang lain. Lihatlah, masih banyak orang butuh uluran tanganmu. Mereka yang kesulitan ekonomi, ataupun menjadi kaum yang tertindas, bantulah mereka sebisamu. Itulah yang seharusnya menjadi tujuan dan kepentingan kelompokmu itu, mewujudkan suatu perdamaian dan kesatuan. Masih banyak masalahku, janganlah kau memperumitku dengan masalah sepele yang tidak perlu terjadi seperti ini. Karena solusi bagi masalah seperti ini hanya satu: Kebesaran Hati.

Aku tunggu pertobatanmu, nak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s