Gus, You’re My Inspiration (Part 1: pluralisme)

Semalam saya baru saja menghabiskan novel Sejuta Doa untuk Gus Dur. Sang penulis, Damien Dematra, tampaknya berhasil mengantarkan saya ke level yang lebih tinggi dari sekedar membaca. Seharian ini, pikiran saya dibayangi oleh pesan-pesan tersirat yang terdapat dalam kisah sang pluralis. Ada dua yang sangat menghantui pikiran saya. Pertama adalah mengenai masalah pluralism agama, dan kedua adalah perihal makna kesuksesan.

Kerukunan antar umat beragama. Ya, itulah salah satu prinsip kehidupan bersama yang beberapa hari ini selalu dipertanyakan oleh kaum minoritas, terutama pasca kejadian HKBP Ciketing. Apakah negara ini masih mengayomi kaum-kaum minoritas? Apakah di negeri ini sudah tidak ada tempat lagi bagi minoritas? Terlepas dari kebenaran berita-berita yang disiarkan media tentang kasus tersebut beberapa hari ini, pada nyatanya toh memang kaum minoritas banyak yang masih hidup dibayangi ketakutan.

Tentu saja, ketakutan itu bukan tanpa sebab. Ketakutan itu muncul karena kaum minoritas sudah sering mengalami hal-hal buruk dan tidak adil. Sebut saja peristiwa kerusuhan Mei 1998. Sampai sekarang pun masih tidak jelas siapa yang mendalangi. Salah satu peristiwa kelam yang mewarnai sejarah perjalanan Indonesia dibiarkan gitu aja. Entah mau jadi apa bangsa ini. Belum lagi peristiwa bakar-bakaran rumah ibadah, penyerangan di monas, hingga kasus Ahmadiyah.

Saya berandai-andai. Kalau saja masih ada Gus Dur saat ini, saya yakin dia orang pertama yang berani berbicara banyak tentang kasus HKBP ini. Sayang, beliau sudah tiada dan tampaknya masih belum ada pengganti yang bisa menyamai beliau. Namun demikian, saya masih merasa ada harapan ketika mengetahui ternyata banyak juga orang yang sudah bersuara untuk pluralisme di negeri ini. Salah satunya adalah Gerakan Peduli Pluralisme (GPP). Semoga seiring berjalannya waktu suara-suaranya semakin didengar dan bisa turut menguatkan kebhinekaan di Indonesia.

Gus Dur dalam tulisannya di Kompas yang berjudul “Islam dan Hubungan Antarumat Beragama di Indonesia” telah memberikan suatu “wejangan” dan pandangannya mengenai keberagaman agama di Indonesia.

… bahwa masalah pokok dalam hal hubungan antarumat beragama adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan. Kita hanya mampu menjadi bangsa yang kukuh kalau umat agama-agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain, bukan hanya sekedar saling menghormati. Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukan hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s