I LOVE Tasik too…

Salah satu kebiasaan saya pertama masuk kantor pagi-pagi adalah membaca kompas.com ataupun situs berita lainnya. Pagi hari ini saya tertarik dengan salah satu artikel kompasiana tentang wisata dan kuliner. Saya tertarik karena ada sangkut-pautnya dengan kota dimana saya tumbuh besar, Tasikmalaya. Akhirnya, saya kutip dan masukin di blog. Bagi yang ingin membaca langsung, bisa klik di sini. Semoga setelah membaca artikel ini, anda-anda semua tertarik berkunjung ke Tasik. Banyak makanan enak loh di sana. Saya paling suka mie-nya. Wah, Tasik surga mie deh.. haha..

***

Jauh-jauh dari Amerika ke Tasikmalaya Hanya untuk TO

(by Teten Rustendi, 21 September 2010, 07:41)

Brian Davidson

TUTUG oncom (TO) kudapan yang mencapuradukkan nasi dan oncom plus rempah-rempah tergolong makanan yang merakyat. Dengan mengeluarkan kocek Rp 3.000-Rp5.000, orang bisa menikmati seporsi TO dengan tambahan aneka gorengan seperti bala-bala, cipe, dan gehu.

Harganya yang murah serta cara menyantap yang tak ribet membuat pamornya semakin terangkat. Promosi dari mulut ke mulut, mereka yang sempat mencicipinya ikut menaikkan nama TO. Tak heran, tutug oncom kini jadi penganan paling dicari pelancong saat singgah di Kota Resik.Penjualnya mudah ditemui. Bak cendawan pada musim hujan, pedagang makanan yang menawarkan sensasi pedas karena ada sambal hejo dan merah itu terus bermunculan.

Masa Lebaran lalu, tutug oncom termasuk kudapan yang paling dicari pemudik. Mereka memadati pedagang TO di sejumlah titik seperti Jln. Rd. Ikik Wiradikarta (Kalektoran), Jln. BKR, Jln. Dadaha, Jln. Siliwangi, Jln. Sutisna Senjaya, Jln. Tentara Pelajar, dll. Nyaris tukang TO mengalami masa marema. Bahkan, di kawasan Kalektoran, konsumen harus berebut dengan pembeli yang lain untuk mendapatkan pesanan. Mereka rela menunggu dan mengantre selama setengah jam hanya untuk seporsi tutug oncom.

Gaung Tasik terkenal karena TO-nya tak hanya di tanah air. Citarasa tutug oncom yang gurih memikat selera makan warga asing. Wisatawan asing yang sedang melancong ke kota yang sempat berjuluk 1001 bukit itu mengetahui TO dari internet.

Brian Davidson (23), seorang berkewarganegaraan Amerika dengan pekerjaan terakhir sebagai guru bahasa Inggris mengaku, penasaran dengan tutug oncom. Jauh-jauh dari negeri Paman Sam, pemuda asli Texas itu datang ke Tasikmalaya hanya untuk TO. Ia rela menempuh jarak ribuan kilometer melintasi laut dan pulau karena penasaran dengan tutug oncom.

“Saya tahu tutug oncom dari internet. Ketika sedang ’searching’ ‘website’. Dalam sebuah situs khusus untuk ‘backpacker’, di Tasikmalaya Jawa Barat ada makanan yang cukup terkenal yaitu tutug oncom. Kebetulan saya sedang melakukan perjalanan menjelajah Indonesia dan akhirnya tiba di Tasikmalaya. Saya pun lantas menanyakan kepada orang-orang di sini, apa itu tutug oncom dan memang sangat terkenal,” ujar pria yang menyukai musik klasik.

Brian yang selama di Tasikmalaya tinggal di hotel, lantas akhirnya ditampung seorang pengusaha muda, Yepi Rakhman, penasaran dengan tutug oncom setelah melihat foto makanan itu. “Saya memang sangat tertarik dengan suasana di belahan negara lain. Setiap berkunjung akan selalu mencari makanan khas apa lagi yang harus saya coba,”ungkapnya.

Akhirnya, pria yang tahun ini berencana untuk mengajar di Marokko itu memenuhi keinginannya menyantap tutug oncom di Kalektoran, Senin (13/9). Dengan lahap Brian menghabiskan seporsi TO dalam tempo sekejap. Ia tampak terbiasa makan nasi yang bukan makanan pokok di negaranya. “Kebetulan saya dua tahun pernah tinggal di Korea Selatan, dan makanan di sana tak beda jauh dengan di Indonesia. Orang-orang asia sangat menggemari nasi dan mi. Gara-gara lama tinggal di Korea, saya jadi sangat menyukai mi, terutama mi yang dicampur dengan daging ayam,”katanya.

Ditanya kesan pengalaman pertama makan TO, Brian mengatakan, rasanya sangat pedas. Makanan Indonesia terkenal pedas seperti makanan Padang, rendang. “Tapi saya menyukainya. Dan itu menambah daftar makanan Indonesia yang pernah saya santap sebelumnya seperti sate dan gado-gado,”lanjutnya.

Beruntung, Brian tinggal selama tiga hari di keluarga yang memang tahu kuliner khas Tasikmalaya. Ia pun diajak oleh keluarga barunya mencicipi aneka makanan khas Tasik mulai dari bubur, bakso, bandrek jack, sate Haris, surabi kalektoran, lotek, dll. Selama menikmati masa liburan di kota yang terkenal dengan kerajinannya, Brian terkesan dengan keramahan penduduk Tasikmalaya. Brian menyempatkan berkunjung ke sentra batik tasik di Kampung Ciroyom, Kecamatan Cipedes dan mendong di Kec. Purbaratu. Ia pun sempat membeli dua stel batik untuk ibunya yang tinggal di Amerika.

“I Love Tasikmalaya and Thanks,” ujar Brian sebelum melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Seorang diri, lulusan Texas University itu menjelajah daerah di Indonesia. Brian pun sempat menyampaikan salam melalui surat elektronik , It was nice to meet you and your friends. Thank you for introducing me and making my (short) time in Tasikmalaya fun. I will read the article soon. I got a little hurt last night while hiking in Taman Nasional Pangandaran, because I got lost in the forest at night! I climbed up the rocks and made it back, but it was scary. I am thinking about my next trip to Tasik! Selamat tinggal, -Brian.***

One thought on “I LOVE Tasik too…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s