Basic LTE (Part V: What can LTE do?)

Lama saya tidak meneruskan seri Basic LTE di blog saya. Terakhir, melalui part 1-4 saya sudah membahas faktor-faktor pendorong bagi berkembangnya teknologi ini. Sekarang, saya akan mengajak para pembaca semua untuk melihat beberapa fitur LTE sehingga bisa terbayang seberapa hebat kemampuan yang dimiliki oleh teknologi penerus 3G ini.

  • Latency: < 10 ms RTT. Nilai ini kira-kira lebih kecil lima kalinya dari teknologi HSPA+ (50 ms). Dengan latency yang sedemikian kecil ini, LTE sangat mendukung aplikasi-aplikasi yang sensitif terhadap delay/latency. Contoh aplikasi tersebut adalah interactive gaming. Jangan sampai ketika kita memencet tombol, aksinya baru terjadi sedetik kemudian. Sebel jadinya kalau begitu. Nah, LTE dapat menjawab kebutuhan tersebut.
  • Peak Data Rate: > 100 Mbps untuk downlink (LTE 20 MHz MIMO 2×2) dan >50 Mbps untuk uplink (LTE 20 MHz MIMO 2×2). Nilai ini lagi-lagi cukup besar jika dibandingkan teknologi lain. Tinjau saja, WiMAX 10 MHz hanya dapat mencapai 36 Mbps, sedangkan LTE 10 MHz dapat mencapai hingga 60 Mbps untuk downlinknya (berdasarkan data hasil trial dari salah satu vendor). Namun, tentu saja jangan harap kita akan dapat performa data rate yang sama ketika teknologi ini diimplementasikan secara komersil nantinya. Perlu diperhatikan bahwa nilai nominal ini merupakan peak data rate, artinya diukur pada lokasi yang dekat dengan pemancar, kuat sinyal yang tinggi, dan hanya satu user, sehingga kondisinya mendekati ideal.
  • Dengan data rate yang begitu tinggi yang dapat dicapai, maka tidak heran apabila spectral efficiency LTE juga lebih tinggi. Tingginya spectral efficiency ini berperan juga di dalam memberikan cost reduction bagi operator.
  • Scalabale bandwidth: 1.4, 3, 5, 10, 15, 20 MHz. Hal ini memungkinkan operator-operator CDMA yang hanya mempunyai bandwidth 1.25 MHz misalnya, dapat melakukan migrasi ke LTE dengan bandwidth yang dimilikinya.
  • Operating band — frekuensi kerja LTE bervariasi dan mencakup seluruh frekuensi keluarga IMT-2000 (450MHz – 2.6 GHz).

Itulah kira-kira empat fitur utama yang perlu menjadi sorotan dalam teknologi ini. Namun, masih banyak tentunya yang dapat dilakukan LTE. Misalnya, jangkauan LTE bisa mencapai 30 km (tentu dengan degradasi performansi). Kemudian dari sisi mobilitas, LTE masih bisa menunjukan performa yang cukup berarti meski user sedang bergerak dengan kecepatan 350km/h. Hal ini memberikan nilai lebih bagi mereka yang sering melakukan perjalanan dengan kereta api tentunya.

Satu hal yang juga penting: jangan pikir bahwa dengan LTE, semua teknologi pendahulunya tidak dapat digunakan secara co-exist. LTE memungkinkan interworking dengan teknologi-teknologi lain, seperti CDMA, GSM, W-CDMA, dan WiMAX.

Tentunya, masih banyak fitur-fitur LTE yang belum disebutkan di sini. Namun, beberapa fitur yang telah disebutkan di atas rasanya sudah cukup untuk dapat menggambarkan seberapa hebat kemampuan LTE dan apa saja yang dapat kita lakukan dengan LTE. Misalnya gambar di samping ini. Salah satu vendor terkemuka bekerja sama dengan pabrikan mobil Jepang telah berhasil membuat “connected car” berbasis teknologi LTE.

Jika ada yang masih penasaran atau belum kebayang apa saja yang bisa dilakukan dengan LTE, silahkan klik di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s