Ayo, Cintai Produk Indonesia!

“Pemerintah belum mau pakai ini, malahan yang beli ini adalah NATO, tiap tahun kita mendapatkan order sebanyak 30.000 setel pakaian tentara.” Kata Achmad Joing, salah satu peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) TNI. (Sumber: Kompas; “TNI Belum Berminat, NATO Sudah Pesan”).

Mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya bahwa negeri kita dapat menghasilkan produk berkualitas hingga dipesan oleh negara lain. Selain pakaian tentara, dikatakan juga dalam situs tersebut bahwa anak negeri sudah mampu membuat laras untuk senjata api, baik laras pendek maupun laras panjang, Pesawat pengintai tanpa awak, alat komunikasi militer, panser militer, kapal patroli, hingga rompi anti peluru. Namun, miris rasanya jika produk yang bisa kita buat sendiri dengan kualitas baik dan harga lebih murah masih belum dipercaya untuk digunakan di negeri sendiri. Menurut Achmad, hal itu disebabkan oleh tidak adanya goodwill dari pemerintah untuk memberdayakan putra bangsa. Berita tersebut sangat ironis jika mengingat bahwa beberapa waktu yang lalu pemerintah baru saja mencanangkan gerakan cinta produk dalam negeri sebagai salah satu cara untuk mengatasi tekanan krisis ekonomi global.

Meskipun demikian, janganlah terlalu cepat menghakimi pemerintah. Rasanya akan lebih berarti jika kita memikirkan usaha apa yang minimal dapat dilakukan sebagai warga negara daripada membahas kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkesan setengah hati dalam menyukseskan gerakan cinta produk lokal ini. Sekarang, cobalah kita jujur kepada diri sendiri. Bayangkan kita berada di satu pertokoan untuk membeli sesuatu. Kemudian ada dua pilihan produk. Yang satu berlabelkan “Made in Indonesia”, dan yang lainnya “Made in Negara Asing”. Produk mana yang akan kita pilih sekalipun produk Indonesia tersebut lebih murah dan memiliki daya guna yang sama dengan produk asing tersebut? Saya yakin, jika kita semua memiliki dana yang cukup, maka masih banyak di antara kita yang akan memilih produk asing. Kita seolah-olah tahu benar bahwa kualitas produk asing selalu lebih baik daripada produk lokal. Anggapan seperti ini memang sudah menjamur di masyarakat kita. Lama-lama anggapan tersebut dapat semakin membengkak dan berubah menjadi penyakit mematikan bagi negara kita sendiri.

Namun, perlu kita akui bahwa anggapan tersebut bukanlah anggapan yang muncul semata-mata karena memang kita tidak cinta produk sendiri. Seringkali anggapan tersebut muncul berdasarkan pengalaman-pengalaman pahit ketika menggunakan produk lokal. Misalnya saja, barangnya mudah rusak, atau tidak adanya pusat layanan konsumen. Di sisi lain, produk-produk dalam negeri juga serinngkali tidak memiliki tampilan fisik yang baik dan menarik konsumen, justru terkesan murahan. Fakta-fakta seperti inilah yang akhirnya membuat sebagian masyarakat kita enggan dan gengsi menggunakan produk dalam negeri.

Lantas, bagaimana solusinya? Baca kelanjutannya di http://fokal.info/fokal1/opini.html

(Opini oleh Jeffrey Kurniawan dan telah dimuat di majalah online fokal. Klik di sini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s