Yuk, Peduli Bencana!

Akhir-akhir ini, bencana datang silih berganti. Mulai dari banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai, hingga meletusnya Gunung Merapi. Sementara aktivitas Merapi belum selesai, Anak Krakatau dan Semeru sudah mulai menyemburkan awan panasnya seakan sudah siap menyambung bencana Merapi. Sekarang, sementara perhatian seluruh warga negara tertuju pada penanggulangan bencana serta evakuasi korban Mentawai dan Merapi yang masih berlangsung, muncul satu bencana baru. Penjualan saham perdana (Initial Public Offering – IPO) salah satu perusahaan BUMN berkategori gemuk, PT. Krakatau Steel, telah menuai banyak kritik dan kecaman.

Banyak pihak menilai ada maksud terselubung di balik IPO ini, harga yang ditawarkan tidak wajar dan jika penjualan ini terus dilanjutkan maka hanya akan menimbulkan kerugian bagi negara. Apalagi, pelaksanaannya tidak transparan. Oleh karena itu, seperti yang dilansir oleh mediaindonesia.com (5 Oktober 2010), sebanyak 13 orang yang terdiri dari pengamat ekonomi dan pengamat pasar modal mengajukan citizen law suit agar penjualan saham tersebut dibatalkan demi mencegah dampak bencana ekonomi ini.

Memang perlu diakui bahwa pada faktanya bencana-bencana yang terjadi di negeri kita selain diakibatkan oleh aktivitas alam, seperti yang terjadi di Mentawai dan Merapi, bencana juga kerapkali terjadi karena godaan kepentingan. Tengok saja, kasus-kasus seperti makelar pajak, mafia hukum, dan skandal Bank Century, semuanya telah menunjukkan betapa orang menggunakan kekuasaan secara tidak bertanggung jawab sehingga merugikan orang-orang yang seharusnya dinaungi oleh mereka. Hukum sudah menjadi komoditi yang bisa dibeli oleh orang beruang sehingga lama-lama kebenaran dan ketidakadilan sulit sekali ditemukan di negeri ini. Oleh karena itu tidaklah aneh, ketika rentetan bencana alam melanda negeri kita sebulan terakhir ini, banyak rakyat memaknai bencana ini sebagai salah satu teguran dari Tuhan terhadap negeri ini.

Bagi saya, serangkaian bencana yang terjadi akhir-akhir ini bukan hanya membawa teguran dari Sang Khalik, tetapi juga ingin berusaha menunjukkan sesuatu sebagai bahan pembelajaran bagi semua rakyat Indonesia bahwa semestinya kita sudah lebih siap menghadapi bencana alam di negeri ini.

Pertama, Indonesia seharusnya sudah memiliki solusi komprehensif dan koordinatif untuk penanggulangan bencana alam, seperti gempa, tsunami dan meletusnya gunung api. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP), karena kita semua sudah tahu bahwa sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar yang aktif sehingga memiliki potensi besar terjadinya gempa dan tsunami. Ditambah lagi Indonesia yang terletak pada ring of fire ini memiliki setidaknya 83 gunung api aktif. Kenyataan tersebut juga sebenarnya secara implisit sudah memberi peringatan agar kita melakukan persiapan sejak dini. Ironisnya, banyak daerah rawan bencana minim sarana dan prasarana. Hal ini terjadi di Mentawai. Situs berita vivanews.com pada 2 November 2010 menyampaikan bahwa BNBP mengakui salah satu penyebab warga di daerah Pagai Utara dan Pagai Selatan tidak mendapatkan peringatan dini tsunami adalah akibat minimnya sarana.

Pendidikan bencana bagi masyarakat seperti yang disuarakan Bapak SBY juga dapat menjadi salah satu persiapan. Kita bisa belajar dari bentuk pendidikan bencana yang sudah dilakukan rutin tiap tahun di beberapa negara seperti ShakeOut, sebuah latihan/simulasi yang dirancang untuk memberikan edukasi kepada publik tentang bagaimana mereka melindungi diri ketika terjadi gempa besar. Dengan bentuk-bentuk pendidikan bencana seperti ini, korban jiwa dapat diminimalisir karena masyarakat sudah tahu bagaimana cara yang benar untuk melindungi diri, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.

Kedua, adanya pengrusakan alat tsunami buoy Mentawai oleh orang tak bertanggung jawab menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang belum sadar bahwa perilaku teledor mereka yang mungkin mereka anggap sepele, dapat mengakibatkan masalah besar dan merugikan orang lain. Kejadian serupa terjadi di gunung Galunggung. Berkat pemberitaan sejumlah media massa yang menyebutkan bahwa muntahan material dari gunung Merapi akan melebihi rekor Galunggung, akhirnya terkuak satu fakta mengkhawatirkan bahwa ternyata tanggul dan kantung lahar dingin di kawasan gunung Galunggung telah hilang akibat aktivitas galian pasir di kaki gunung tersebut. Sedikitnya 4000 warga terancam jika gunung ini meletus (sumber: news.okezone.com). Dengan beberapa fakta di atas, pemerintah mesti lebih memperhatikan situs rawan bencana di negeri ini dan mulai memperbaiki alat-alat yang rusak sehingga ketika bencana alam terjadi, dampaknya sudah dapat diminimalisir.

Sungguh berat memang jika pada akhirnya seluruh tanggung jawab dilimpahkan kepada pemerintah. Tanpa dukungan dan kesadaran dari rakyatnya, segala usaha yang dilakukan pemerintah pun tidak akan maksimal. Kedua pihak harus bekerja sama secara sinergis. Sementara pemerintah menyiapkan banyak program dan infrastruktur untuk penanganan bencana, kita sebagai warga negara biasa belajar untuk terus menjauhkan diri dari perilaku-perilaku yang merugikan lingkungan dan orang lain. Pada intinya, setiap kita harus senantiasa bersiap diri dengan melakukan tugas dan tanggung jawab masing-masing disertai dengan hati yang penuh dengan kepedulian karena kita tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana bencana itu datang.

(Oleh: Jeffrey Kurniawan,

telah dimuat di Majalah Fokal pada 8 November 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s