Dubbing, masih perlukah?

Kemarin malam saya menonton satu film di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Kebetulan film yang diputar adalah film mandarin bergenre martial art/kung-fu. Judulnya “IP Man”. Saya sih sudah pernah menontonnya. Tapi saya tidak keberatan untuk menontonnya lagi karena film tersebut memang seru dan tidak bosan untuk ditonton lagi. Namun, di samping saya senang karena ada tontonan menarik, hati saya sangat sedih. Mengapa??? Di tahun 2010 ini, masih ada film mandarin yang di-dubbing. Yap, betul sekali. Film “IP Man” yang saya tonton telah melalui proses dubbing ke bahasa Indonesia.

Ingatan saya pun terbang ke masa-masa orde baru dulu. Dahulu memang tidak aneh jika siaran film mandarin di stasiun televisi ktia di-dubbing. Tapi sekarang??? Bukankah bangsa kita telah memasuki era reformasi? Bukankah kesenian tradisi barongsai juga sudah boleh dipertunjukkan secara umum? Bukankah bahasa mandarin sudah menjadi bahasa penting di dunia setelah bahasa Inggris? Kenapa film mandarin masih di-dubbing? Saya sangat heran sekali.Apalagi, film yang ditayangkan termasuk film yang cukup baru yang dirilis di tahun 2008. Saya masih maklum jika film yang ditayangkan adalah film-film tahun 1990-an.

Di era globalisasi ini, tidak hanya film mandarin, sudah selayaknya semua siaran berbahasa asing yang ditayangkan di televisi tidak perlu di-dubbing. Biarlah masyarakat kita bisa mengenali berbagai bahasa di dunia ini. Adanya dubbing di masa ini telah membuat seakan-akan ingin ada yang ditutupi dari khalayak umum.Semoga saya salah.

Kecuali untuk film anak-anak, ada minimal tiga alasan mengapa dubbing sudah tidak perlu lagi:

1. Sekarang Indonesia sudah memasuki era reformasi dan juga globalisasi. Biarkan masyarakat termasuk juga anak-anak mengenal berbagai budaya termasuk bahasa dari luar negeri. Biarkan mereka tahu bahwa di dunia ini tidak hanya ada bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya, tapi di luar sana masih ada ribuan bahasa untuk dikuasai. Hal ini akan berguna kelak mengingat Indonesia sudah banyak bekerja sama dengan negara asing. Dengan menonton film asing tanpa dubbing, bukankah kita juga secara tidak langsung sedang belajar sedikit tentang bahasa lain tersebut melalui subtitle-nya?

2. Tanpa dubbing akan menjaga keutuhan film tersebut karena terkadang proses dubbing menyebabkan film menjadi tidak nyaman ditonton dari sisi audio. Apalagi seperti film “IP Man” ini. Di dalam film ini ada dua bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Jepang dan Mandarin, sekarang akibat dubbing semuanya menjadi bahasa Indonesia. Sungguh tidak seru.

3. Menyisipkan subtitle jauh lebih bijak daripada dubbing. Kasihan kan mereka yang ditugaskan untuk melakukan dubbing, sudah cuap-cuap sampai mulut berbusa, hasilnya masih lebih baik tanpa dubbing.

Semoga para pihak berwenang stasiun TV Indonesia membaca tulisan ini dan menghilangkan proses dubbing.

2 thoughts on “Dubbing, masih perlukah?

  1. jangan biasakan ambil negatifnya bos, klo utk anak muda memang nda masalah klo memang diharuskan untuk belajar mendengar dan mengenal bahasa dari luar, kasihan orang tuanya karena tidak semua orang tua bisa membaca subtitlenya, n meskipun bisa membaca belum tentu mereka mampu membaca semua teks, malah terkadang kita lagi asyik nonton tiba2 disuruh ganti siaran gara2 mereka nda paham bahasanya lebih2 kli harus disuruh baca artinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s