Cuci Piring

Ketika seorang tamu dengan sukarela mau mencuci piring, Sang Guru berkata, “Apakah Anda yakin bahwa Anda mengetahui bagaimana mencuci piring?”

Orang itu berkata bahwa ia telah melakukannya selama hidupnya.

Kata Sang Guru, “O.. saya tidak meragukan kemampuan Anda membuat piring-piring itu bersih. Saya hanya meragukan kemampuan Anda mencuci piring itu.”

Inilah penjelasan yang ia berikan kepada para muridnya kemudian.

“Ada dua cara mencuci piring.

Pertama, mencuci untuk membuat piring-piring itu bersih; kedua, mencuci untuk mencuci saja.”

Keterangan itu masih belum begitu jelas.

Maka ia menambahkan:

“Tindakan pertama itu mati karena sementara badanmu mencuci, pikiranmu terpaku pada tujuan membersihkan piring-piring itu.

Yang kedua itu hidup karena di mana pikiranmu ada, di situ tubuhmu berada.

Beberapa bulan lalu, saya membaca satu tulisan pencerahan De Mello ini dengan terbengong-bengong, karena saya tidak mengerti sama sekali maknanya. Tapi, ketika malam ini saya iseng membaca ulang, tiba-tiba saya memiliki suatu pandangan akan makna dari cerita ini. Mungkin tidak semua pembaca setuju dengan penafsiran saya, but it’s okay. Pencerahan dapat didapatkan dari berbagai sisi.

Bagi saya, maknanya so simple. Terkadang, kita melakukan apa yang tidak ingin kita lakukan, namun kita tetap melakukannya. Di sini, rasio kita bicara. Meski hati kita tidak menyukainya, tapi karena bagi pikiran kita hal itu masuk akal dan kita butuh manfaat dari tindakan kita itu, kita tetap melakukannya. Contoh: seseorang yang menekuni suatu pekerjaan karena sesuai dengan background studinya sewaktu kuliah. Karena dia sudah mendapatkan pekerjaannya saat ini dan kerjaannya juga mendapat apresiasi dari atasan, meski dia sendiri tidak menyukai kerjaannya tersebut, dia tetap melanjutkannya karena dia pikir bahwa karirnya berpotensi untuk terus menanjak dan ini bisa menjadi bekal bagi masa depannya.

Sebaliknya, “di mana pikiranmu ada, di situ tubuhmu berada” menunjukkan keberanian untuk melakukan apa yang kita sukai. Di sini, hati kita yang bicara, bukan rasio. Pilihan tindakan yang kedua ini tidak banyak diambil orang, karena kadang-kadang pilihan kedua ini memiliki banyak resiko ketidakpastian yang kerapkali membuat kita semua gentar.

Namun, Sang Guru ingin mengingatkan bahwa tindakan yang pertama adalah mati, sedangkan yang kedua adalah hidup. Artinya, ketika seseorang melakukan pekerjaan yang dia suka, semua hasil positif akan menanti dia di ujung pekerjaannya, meski jalan yang dia tempuh kerapkali berkerikil. Sedangkan jika seseorang memilih melakukan tindakan yang pertama, kerapkali di suatu titik, dia akan stagnan dan merasa jenuh.

Saya kira kita semua setuju, inilah yang disebut lentera jiwa. Banyak juga orang yang menyebut perihal ini passion. Jangan sampai kondisi yang menentukan tujuan dalam hidup kita, tetapi kita yang mestinya menemukan tujuan hidup kita sendiri. Kenali lentera jiwa/passion Anda, maka Anda akan mendapatkan tujuan hidup Anda di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s