Menciptakan Intelektual Muda Kristen

“Menulis itu menciptakan kelompok menengah…” [Albertus Patty]

Pernyataan itu saya dengar dari beliau kala berbincang-bincang soal gereja dan organisasi Kristen seperti PMK, GMKI, dan sebagainya. Ucapan itu terkesan terlalu muluk! Karena tidak mudah untuk melakukan atau bahkan memotivasi orang menulis. Dan memang bukan hanya itu cara  membangun intelektualitas, ada banyak cara! Misalnya; Pendalaman Alkitab, kelas Bahasa Inggris, Debat, dan beragam forum lainnya.

Persoalannya, program-program itu sudah lama ada, tetapi tidak berkesinambungan bahkan banyak yang mandek. “Boro-boro bang! Yang datang persekutuan aja dikit, apalagi bikin pelatihan menulis, fotografi dan sebagainya. Capek deh.” Itu nada-nada jujur yang sering kita dengar dari para aktivis. Sebuah ironi bagi kekristenan! Bagaimana mau jadi berkat, sedangkan menghadiri kelas-kelas pengembangan diri saja enggan. Habislah kekristenan di masa mendatang!

Jangan buru-buru menyalahkan beberapa kalangan, karena akan menggoda kita hingga terlena dalam rasa nyaman. Tidak ada yang bisa menduga jadi apa dunia ini puluhan tahun lagi. Hanya saja, tantangan terus bertambah dalam beragam bentuk. Kalau mau jadi berkat, mesti cerdas! Itu bagian dari prinsip ditengah-tengah zaman serba canggih ini.

Bagaimana membangkitkan semangat kekristenan yang dulu pernah ada dalam diri Leimena, T.B. Simatupang, dan intelektual Kristen lainnya? Semua tahu tidak ada yang instan dan mudah. Butuh kebesaran dan kesabaran hati. Utamanya, komitmen untuk terus melihat setiap peluang-peluang pengembangan potensi.

Saya bukan orang yang anti pada gerakan-gerakan yang mengutamakan hubungan pribadi dengan Tuhan. Itu sebuah panggilan bagi kita semua. Tapi ada panggilan lain yang mesti kita ingat kembali, berkarya bagi masyarakat dan bangsa! Caranya, tentu tidak hanya dengan berdoa dan membaca Alkitab, mesti kongkret!

Ada banyak kesempatan yang bisa kita gunakan untuk mewujudkannya. Soal biaya, jangan takut! Kita percaya Tuhan akan cukupkan apa yang menjadi kebutuhan dan Ia akan sangat mendukung niatan kita untuk mengembangkan porsi-porsi intelektualitas. Siapa yang tidak rindu melihat orang-orang Kristen duduk di pemerintahan, berbakti secara global bagi kebaikan bersama di Indonesia ini! Saya percaya, ketika nanti jadi menteri, anda akan sangat mengidolakan saya atau bahkan mengundang untuk hadir dalam seminar-seminar kekristenan.

Mari bangun dari tidur, kita punya kekuatan yang besar untuk melakukan perubahan. Kuncinya masih sama, semangat, harapan, juga kreatifitas. Ketika rencana untuk membuat pelatihan public speaking, bedah buku, seminar, berbenturan dengan dana. Kita bisa menghadirkan alumni atau orang-orang yang ada di organisasi kita sendiri. Walau kualitasnya kalah dengan mereka yang terkenal, dari situ kita bisa sama-sama belajar. Yang jadi pembicara termotivasi untuk makin kompeten, begitu juga yang mendengarkan. Semua ini kan peluang.

Kita mesti akui, bahwa Yesus menjadi pribadi yang begitu mengasihi dan mengejutkan di zamannya (sampai hari ini) karena Ia belajar sejak kecil. Hingga intelektualitasNya nyata bagi orang-orang tertindas di masa itu. Saya yakin ini kerinduan kita bersama. Sudah saatnya saling bekerjasama lebih erat lagi. Menggabungkan nilai dan kelebihan masing-masing, sinergis yang mendorong kebaikan dan kemajuan. Berhentilah untuk saling menduga atau bahkan membandingkan. Mari langkahkan kaki ini untuk menghadirkan intelektual-intelektual Kristen masa mendatang.

Oleh: Basar Daniel Jevri Tampubolon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s