Aku akan selalu ingat, Ma.

Besok, 22 Desember, adalah Hari Ibu. Satu hari dimana setiap anak diajarkan sejak kecil untuk memberikan kado untuk mama mereka sebagai wujud terima kasih mereka kepada mamanya. Tapi aku tidak pernah diajarkan untuk seperti itu, bahkan aku baru tahu tentang Hari Ibu setelah beranjak remaja. Meski aku belum pernah memberikan kado apapun kepada Mama, bukan berarti aku lupa sama semua pengorbanan Mama selama 22 tahun ini.

Aku masih ingat, ketika aku masih di Play Group, Mama dan Papa pernah membuat pesta ulang tahun yang sangat besar buat ku. Kala itu, semua guru, teman dan saudara tidak ada yang tidak diundang. Dan aku mendapatkan banyak hadiah dari mereka dan juga dari Mama-Papa. Meski sekarang aku tahu, pesta itu adalah pesta terbesar terakhir untukku.

Setelah itu, setiap ulang tahun aku tidak pernah berpesta lagi. Kondisi ekonomi keluarga kita bagaikan jatuh dari langit dan terjerembab ke dasar bumi yang paling dalam. Namun, hal itu tidak membuat Mama putus asa. Mama tetap tegar, meski sudah jatuh, Mama selalu berusaha untuk bangun lagi.

Aku masih ingat, ketika kita numpang di rumah paman, Mama setiap malam membuat masakan dan kue untuk dijual keesokan harinya. Bagi Mama, tidur lewat tengah malam sudah biasa, yang penting besok bisa dapatkan uang untuk biaya, termasuk biaya sekolah. Mama tidak pernah malu untuk menawarkan semua dagangan itu ke teman-teman Mama, meski dulunya Mama lebih kaya dari mereka.

Aku masih ingat, dulu makan daging saja tidak mampu. Sayuran menjadi teman bersantap kami setiap hari. Terkadang, kita pun hanya memakan nasi putih hangat diaduk dengan garam atau kecap saja. Untung Mama giat jual masakan, jadi kita ada waktunya makan daging. Aku masih ingat Mama selalu bilang, “Dengan jual masakan, masakan yang kamu santap itu itung-itung gak bayar”.

Aku masih ingat, ketika Mama pernah bilang bahwa bekal satu-satunya yang bisa dia kasih untuk aku hanya pendidikan. Dia selalu bilang agar aku bisa belajar sebaik-baiknya, menjadi orang yang pandai, mendapat prestasi bagus untuk bisa mengangkat keluarga kami yang sudah jatuh.

Aku masih ingat, ketika aku masih SD, Mama selalu menjemput dan mengantar aku kemana-mana dengan sepeda. Mama selalu membonceng aku. Ketika dia kelelahan mengayuh sepeda, dia menuntun sepedanya tanpa menyuruh aku turun dari sepeda.

Aku masih ingat, bagi kami kala itu, naik becak saja sudah merupakan kemewahan. Tapi Mama sering menawari aku naik becak ketika jaraknya cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Tapi aku lebih sering memilih untuk berjalan kaki bersama mama. Sebagai gantinya, mama membelikan makanan atau es krim buatku. Aku selalu bilang, “Ma, jalan kaki aja. Nanti uangnya dibeliin es krim aja.”

Aku masih ingat, pertama kali aku bisa mengendarai sepeda roda dua. Mama yang selalu menemaniku jatuh-bangun dari sepeda. Hingga suatu kali aku berhasil mengendarainya sendirian, dan kami berdua sangat gembira.

Aku masih ingat, ketika waktu SD hingga SMP, Mama selalu meminta keringanan biaya sekolah ketika terjadi kenaikan setiap tahunnya. Untungnya, prestasi aku di sekolah tergolong bagus, sehingga keringanan biaya pun selalu diberikan kepada kami.

Aku masih ingat, ketika aku lulus SMP, Mama selalu bersedih gak bisa menyekolahkan aku ke SMA di Bandung seperti teman-teman lain. Tapi, aku mengerti dan aku waktu itu bertekad tidak pernah ingin meneruskan SMA ke Bandung.

Aku masih ingat, ketika aku mendapatkan PMDK kedokteran di Maranatha, Mama selalu ingin berusaha mencari cara untuk bisa memasukkan aku jika aku berminat jadi dokter. Tapi aku tahu, biaya yang harus dibayarkan tidak sedikit. Biaya masuknya saja bisa untuk membiayai aku di jurusan lain selama beberapa tahun. Aku pun bertekad tidak akan pernah ingin menjadi dokter daripada harus membebani mamaku yang mencari nafkah.

Aku masih ingat, mama selalu menyuruhku mendapatkan tempat kos yang nyaman meski agak sedikit mahal semasa aku kuliah di Bandung. Mama selalu bilang, “Mama masih bisa cari uang, yang penting kamu nyaman, bisa belajar dengan baik.”

Aku selalu ingat, hingga saat ini di usia senja mama, mama masih kerja keras mencari uang. Mama selalu tidur larut malam tanpa mempedulikan kesehatan Mama sendiri. Mama tidak pernah mengenal istirahat. Terkadang makan pun mama lupakan karena begitu banyak hal yang harus dilakukan. Semua mama lakukan hanya untuk satu-satunya impian mama yang belum terwujud, yaitu membangun sebuah rumah.

Aku selalu ingat, seringkali mama juga menangis. Meratapi hidup, sakit hati dan penderitaan yang rasanya tidak pernah berlalu dari kehidupan keluarga kita. Mama selalu bertanya, “kapan semua ini bisa berakhir?” Aku selalu sedih dan tidak dapat berkata-kata ketika mama menangis.

Mama, selama aku hidup aku jarang mengatakan kata “sayang” sama mama. Tapi, percayalah dalam hatiku yang paling dalam, aku selalu sayang sama mama. Bagiku, melakukan sesuatu yang nyata melebihi seribu ucapan ‘sayang’.Bahkan selama ini aku selalu berusaha mencapai prestasi hanya karena untuk Mama. Mama yang selalu menjadi motivasi aku untuk berusaha mendapatkan nilai bagus sewaktu sekolah dan kuliah.

22 tahun aku dibesarkan, aku harap semua apa telah kulakukan dan kucapai dapat menjadi kebanggaan buat mama. Meski aku sadar, semua itu masih belum cukup. Tenang ma, aku selalu berusaha untuk menjadi orang yang bernilai kok.

Maafin aku, kalau aku sekarang masih belum bisa kasih banyak buat mama, apalagi ngajak mama jalan-jalan ke luar negeri. Tetapi, makasi buat semuanya.. aku akan selalu ingat apa yang uda mama ajarin buat aku, yang mama uda kasih buat aku. Pelajaran hidup yang aku dapat akan selalu terpatri di hati aku untuk selalu buat aku rendah hati dan ingat siapa kita dahulu. Mama memberi aku inspirasi untuk selalu bersyukur dan tidak mengeluh kepada Tuhan atas keadaan yang kita terima.

Aku sayang mama. Aku selalu berdoa buat mama. Aku bangga punya mama, dan aku tidak akan pernah malu atas semua kisah kita.

Aku tahu mama tidak akan pernah tahu aku menulis ini, tapi aku ingin banyak orang tahu kalau aku memiliki mama yang hebat dan luar biasa.

Mom, you are my SUPER HERO always!!

One thought on “Aku akan selalu ingat, Ma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s