Hindari Macet Dengan Bekerja Tanpa Mengenal Ruang dan Waktu

Ketika dunia nyata tidak lagi berdaya mengatasi persoalan kemacetan ibukota, kemanakah kita mesti mengadu?

25 Oktober 2010 agaknya menjadi hari yang kelam bagi seluruh warga Jakarta. Bagaimana tidak, genangan air setinggi 30-40 cm pada malam itu merendam sebagian besar ruas jalan utama di Jakarta. Akibatnya, kemacetan luar biasa pun terjadi. Bahkan, seperti yang dilansir Tribunnews.com pada 26 Oktober 2010, salah satu anggota fraksi salah satu partai politik, Indah Kurnia, menyebut kemacetan pada hari itu sebagai suatu penganiayaan massal. Perjalanan yang biasanya memakan waktu 15 menit justru ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Semua elemen masyarakat Jakarta, khususnya yang bekerja, merasakan dampak banjir yang berbuah kemacetan luar biasa pada hari itu.

Kemacetan tersebut tidak hanya mengakibatkan pemborosan waktu di perjalanan yang membuat hati kesal, tetapi juga menurunnya produktivitas di dalam pekerjaan. Beberapa hari setelah “penganiayaan massal” tersebut, orang-orang sering cepat merasa cemas tatkala hujan mulai mengguyur Jakarta, khawatir bahwa tragedi kemacetan yang sama akan terulang lagi. Hal-hal seperti ini akan mengurangi konsentrasi karyawan dalam bekerja. Percaya atau tidak, bahkan sebuah perusahaan di Jakarta pernah mengizinkan karyawannya pulang lebih awal ketika hujan lebat terjadi.

Gangguan konsentrasi juga terjadi pada pagi hari. Psikolog Universitas Bina Nusantara, Esther Widhi Andangsari, pernah menyampaikan kepada detikcom (29 Juli 2010), bahwa macet akan menurunkan produktivitas kerja karena pagi-pagi sudah stress akibat terjebak macet. Saat ini, rata-rata pekerja menghabiskan 2-3 jam di perjalanan pergi atau pulang kantor. Beberapa tahun ke depan, dengan kondisi kemacetan yang tidak pernah membaik, niscaya waktu yang akan dihabiskan pekerja di perjalanan akan berlipat ganda.

Di samping penurunan produktivitas, fenomena kemacetan di ibukota kerap kali membuat waktu berkumpul dengan keluarga semakin berkurang. Untuk seorang pekerja yang bermukim di sekitar kota Jakarta, biasanya waktu yang  mereka punya untuk berkumpul bersama istri/suami dan anak-anaknya hanya beberapa jam saja pada hari kerja, karena mereka biasanya berangkat pagi sekali dan baru tiba di rumah malam harinya. Tak jarang, anak-anak sudah tidur ketika sang ayah/ibu tiba di rumah. Otomatis waktu yang mereka punya untuk berkumpul bersama keluarga hanya di akhir pekan. Tidak aneh jika akhir-akhir ini kita sering mendengar bahwa salah satu permasalahan yang timbul untuk para orang tua muda adalah khawatir anaknya akan lebih mengenal pengasuhnya daripada ayah/ibu kandungnya sendiri.

Jika dikaitkan dengan nilai uang, kemacetan juga menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Berdasarkan analisa Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Bappenas, pada harian Republika 13 Desember 2010 lalu, kerugian akibat kemacetan di Jakarta sebesar Rp 65 triliun per tahunnya. Terdiri dari kerugian biaya operasional Rp 28,1 triliun dan kerugian nilai waktu perjalanan Rp 36,9 triliun. Dari data tersebut, di sisi lain kita bisa melihat bahwa kemacetan menyebabkan pemborosan bahan bakar minyak (BBM) yang sangat besar. Oleh karena itu, jelas bahwa adanya rencana pemerintah untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi menuai protes dari berbagai kalangan masyarakat karena rencana tersebut tidak dibarengi dengan pembenahan sektor transportasi umum yang konkret dan efektif. Pembatasan penggunaan BBM dinilai hanya akan memberatkan pengguna kendaraan pribadi.

Kemacetan bukanlah masalah baru di Jakarta, beberapa solusi sudah dilakukan oleh pihak berwenang untuk mengatasinya. Mulai dari penerapan jalur 3-in-1, perbaikan jalan, pembangunan jalan tol, hingga penyelenggaraan busway Transjakarta. Namun, agaknya belum ada satu pun solusi yang secara efektif dapat mengatasinya. Kompleksitas akar masalah kemacetan merupakan salah satu kendalanya karena kemacetan di Jakarta tidak hanya dipicu oleh genangan akibat hujan semata, tetapi oleh banyak faktor, di antaranya: kapasitas jalan yang terbatas, pertumbuhan angka kepemilikan kendaraan bermotor yang meningkat cukup signifikan per tahunnya, kurangnya fasilitas transportasi umum yang nyaman dan aman, dan sebagainya. Segudang permasalahan tersebut menuntut adanya solusi yang sistematis, komprehensif dan kontinu.

Belum adanya solusi yang efektif bagi kemacetan ibukota ini membuat masyarakat mencari-cari solusi alternatif sendiri. Dunia maya pun menjadi tempat mereka mengadu. Dari sinilah, muncul ide untuk memanfaatkan konsep teleworking/telecommuting atau yang dikenal sebagai “bekerja dari mana saja”. Dengan solusi yang begitu praktis dan mudah, hanya bermodalkan koneksi broadband, maka pekerjaan dapat dilakukan dan dapat dikomunikasikan tanpa mengenal ruang dan waktu. Beberapa kalangan, terutama praktisi telematika, berharap bahwa solusi yang berbasis teknologi informasi dan telekomunikasi ini dapat dijajaki untuk mengatasi masalah kemacetan yang berujung pada menurunnya produktivitas, serta pemborosan waktu dan uang.

Teleworking

Konsep teleworking sebenarnya sudah mulai dikembangkan sejak awal tahun 70-an oleh Jack Nilles, seorang peneliti dari University of Southern California yang memfokuskan penelitiannya di tradeoff antara telekomunikasi dan transportasi. Secara sederhana, teleworking dapat dipahami sebagai suatu konsep bekerja dari jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi, seperti email, instant messanger, telepon, tele-conference, dan video-conference. Sebagai sebuah konsep modern, pengadopsian teleworking menemui banyak tantangan. Untuk mengatasi tantangan tersebut, penerapan teleworking membutuhkan persiapan yang matang.

John Curran, analis sistem bisnis dari konsultan manajemen di Saltzer, Sutton & Endicott, memberikan sebuah formula sebagai langkah awal agar perusahaan dapat mencapai produktivitas yang tinggi dari penerapan teleworking. Formula tersebut dikenal dengan sebutan ‘Three R’.

Pertama, the right reason (alasan yang tepat). Suatu penerapan teknologi selalu dimulai dari adanya kebutuhan tertentu. Demikian juga teleworking seyogianya diterapkan oleh perusahaan untuk alasan yang tepat. Bukan semata-mata untuk mengikuti tren teknologi, tetapi untuk alasan-alasan yang dapat bermanfaat bagi terlaksananya sistem bekerja yang lebih efisien dan efektif, baik bagi si pekerja maupun bagi perusahaan. Misalnya, untuk meningkatkan produktivitas dari pekerja, mengurangi biaya real estate perusahaan, meningkatkan kontak dengan pelanggan, dan meningkatkan pemberdayaan pekerja ahli yang tidak secara full-time berada di kantor.

Kedua, the right job (pekerjaan yang tepat). Tidak semua pekerjaan cocok menggunakan konsep teleworking. Beberapa pekerjaan memang memerlukan kehadiran pekerjanya secara langsung, seperti: mekanik, pekerja pabrik, analis laboratorium, dan sekretaris. Pekerjaan yang paling sesuai dengan konsep teleworking diantaranya adalah pekerjaan yang bersifat individual, yang tidak terlalu memerlukan bantuan orang lain, atau yang cukup besar bergantung pada sumber informasi digital. Berdasarkan hasil sebuah penelitian tentang teleworking di Hungaria yang pernah dilakukan oleh Tamas Forgacs – anggota Hungarian Telework Association – dan timnya pada tahun 2008,  tipe pekerjaan yang paling banyak mengadopsi teleworking adalah salesperson dan agen. Menyusul di tempat kedua adalah manajer dan executive officer, dan di tempat ketiga adalah  orang-orang yang bekerja di bidang teknologi informasi. Beberapa profesi lain yang juga sesuai dengan konsep teleworking adalah penulis, editor, desainer,  auditor, reporter, dan orang-orang yang melakukan riset lapangan.

Ketiga, the right people (orang yang tepat). Seleksi pekerja merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi implementasi konsep kerja teleworking. Tidak sembarang orang dapat menjalankan tugasnya dengan baik sebagai pekerja jarak jauh. Untuk konsep teleworking, dibutuhkan orang-orang yang memiliki kedisiplinan dan motivasi yang tinggi. Hanya dengan orang-orang seperti itulah teleworking dapat berjalan efektif karena mereka dapat mengatur prioritas dan jam kerjanya secara mandiri dan profesional.

Melihat ketiga faktor di atas, sudah jelas bahwa perusahaan yang akan menerapkan teleworking mesti melakukan pengorganisasian, termasuk di dalamnya adalah pertimbangan dan perencanaan yang matang. Hal ini meliputi penyeleksian pekerja, perubahan praktek manajerial, dan juga penyediaan fasilitas untuk teleworker, termasuk di dalamnya adalah fasilitas akses broadband. Tentu saja semua hal tersebut membutuhkan biaya. Di sinilah perusahaan mesti melakukan perhitungan yang seksama terhadap tradeoff yang terjadi, sehingga perusahaan dapat menyimpulkan apakah teleworking cukup layak diterapkan di lingkungan kerjanya atau tidak.

Penerapan teleworking yang telah dilakukan di berbagai perusahaan di dunia, telah menunjukkan bahwa jika konsep ini tepat sasaran dapat memberikan manfaat yang cukup besar di berbagai faktor. Penerapan konsep teleworking telah dipercaya dapat meningkatkan kualitas hidup. Teleworker memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel, frekuensi pergi-pulang kantor yang tidak terlalu sering, dan mengurangi stress. Jika dilihat dari sisi ekonomi, sesuai dengan apa yang disampaikan Link Resources, teleworking dapat meningkatkan produktivitas pekerja hingga 20% dan dapat mengurangi biaya fasilitas dan real estate perusahaan.

Salah satu operator telekomunikasi besar di Amerika, AT&T, telah menerapkan sebuah program teleworking terhadap 30,000 pekerjanya yang disebut Alternative Officing. Kemudian AT&T melakukan penelitian selama lima tahun terhadap 600 teleworker dan ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Penghematan paling signifikan terjadi pada biaya real estate, sebesar $6,333,124 per tahun. Selain itu, teleworking di AT&T juga ternyata meningkatkan produktivitas. Dari hasil wawancara terhadap para pekerjanya, diperkirakan bahwa tambahan waktu kerja selama dua setengah jam diperoleh per pekerja setiap minggunya. Jika diuangkan, nilai yang diperoleh per tahunnya dari peningkatan produktivitas ini adalah $5,112,841. Sedangkan, pemanfaatan waktu secara lebih efisien dapat memberikan perolehan sebesar $3,127,617 per tahun. Jika dibandingkan dengan biaya sebesar $3,205,507 per tahun yang mesti dikeluarkan perusahaan untuk memfasilitasi teleworker-nya, maka total besarnya manfaat senilai $14,573,582 yang diperoleh AT&T dari teleworking hampir lima kali nilai biaya yang diperlukannya.

Teleworking di Indonesia

Meski teleworking telah diterapkan di berbagai perusahaan di berbagai negara, tetapi sepengetahuan saya hingga saat ini baru sedikit perusahaan yang telah menerapkan teleworking di negeri kita. Salah dua perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan teleworking adalah IBM dan Hewlett-Packard (HP). Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari blog Gandrasta Bangko (mdgandrastab.multiply.com), kedua perusahaan tersebut terbilang cukup sukses menerapkan konsep bekerja jarak jauh di perusahaannya. Bahkan, di samping telah berhasil meningkatkan produktivitas melalui konsep mobile office– nya, HP hanya memerlukan 1 meja kerja untuk setiap 4 orang mobile employee atau dengan kata lain penghematan biaya untuk ruang kantor yang dapat diperoleh mencapai 75%.

Melalui pengalaman berbagai perusahaan yang telah menerapkan konsep kerja ini, teleworking telah terbukti mendatangkan banyak manfaat, diantaranya adalah peningkatan produktivitas, efisiensi waktu dan tentu saja penghematan BBM.

Pengguna internet di Indonesia – berdasarkan informasi yang didapat dari Kompas Tekno pada 20 September 2010 – diperkirakan sudah mencapai 45 juta orang. Anggap saja yang mau melakukan teleworking di tahun pertama adalah 10% dari total pengguna, maka akan ada sekitar 4.5 juta orang teleworker. Bila mereka dapat menghemat sekitar 3 liter BBM per hari, maka dalam sehari dapat dihemat sekitar 13.5 juta liter BBM per hari. Dalam setahun maka ada sekitar 3.5 milyar liter BBM per tahun yang bisa dihemat. Jika jumlah teleworker terus meningkat menjadi 50%, maka penghematan BBM yang bisa dicapai selama setahun sekitar 17.5 milyar liter. Jumlah ini merupakan jumlah yang cukup besar.

Namun demikian, belum banyak pihak yang menaruh perhatian besar terhadap teleworking. Meskipun komunitas praktisi telematika sudah cukup lama berkoar-koar untuk mempromosikan konsep ini sebagai salah satu solusi untuk mengatasi dampak kemacetan yang parah di ibukota, pengadopsian teleworking di Indonesia masih tergolong lambat. Masih banyak perusahaan yang berpikir kuno dengan mengagungkan kehadiran secara fisik di atas kualitas pekerjaannya. Hal ini berkaitan dengan sistem nilai masyarakat kita. Selain itu,  belum adanya inisiatif dari pemerintah untuk mulai menggiatkan teleworking di Indonesia menjadi salah satu faktor mengapa penerapannya masih cenderung lambat.

Peran teknologi

Perlu disadari bahwa teleworking bukan hanya bekerja dari rumah, tetapi bekerja dari mana saja. Yang artinya ketika kita berada di perjalanan sekalipun, kita masih bisa stay connected dan melakukan pekerjaan kita. Dari sini kita bisa mengerti bahwa penyediaan fasilitas akses broadband bagi teleworker bukan hanya untuk di rumahnya saja, tetapi ketika mobile juga. Oleh karena itu, peranan mobile wireless broadband sangat besar.

Namun sayangnya, layanan wireless broadband berbasis 3.5G maupun EVDO yang ada di indonesia masih bersifat best effort. Hal ini berarti kualitas koneksi sangat bergantung kepada jumlah pengguna yang mengakses secara bersamaan (shared bandwidth), tidak ada jaminan kualitas layanan (guaranteed QoS). Ketika jumlah pengguna di suatu sektor banyak sekali, maka jangan aneh membuka Google pun dirasakan sangat lambat. Koneksi yang bersifat best effort ini akan terasa sangat mengganggu ketika teleworker melakukan web conferencing yang membutuhkan bandwidth yang cukup besar. Meski memang benar bahwa kondisi jaringan telekomunikasi di Indonesia saat ini telah menunjukkan peningkatan dari sisi kuantitas, kualitas, dan keterjangkauan, namun perlu diakui bahwa hal ini masih menjadi bottleneck yang dapat menghambat penetrasi penerapan teleworking.

Padahal, berdasarkan laporan penelitian yang dilakukan oleh Wainhouse Research pada tahun 2007, program teleworking yang paling sering digunakan adalah web conferencing, disusul oleh instant messenger (IM), mobile computing, voice over IP (VoIP), desktop video, unified communications, dan group video. Web conferencing merupakan suatu bentuk komunikasi real-time, dimana beberapa pengguna komputer terhubung ke internet secara bersamaan, melihat layar yang sama di web-browser mereka. Web conferencing mencakup fitur texting, VoIP dan full-motion videoWeb conferencing lebih dari sekedar video-conferencing, karena memungkinkan adanya file transfer dan juga application sharing. Web conferencing sudah umum digunakan di banyak perusahaan baik di luar negeri maupun di Indonesia untuk keperluan business live meeting, seminar, presentasi, ataupun online training. Semuanya dilakukan via internet.

Web conferencing­­­­ – sebagai salah satu aplikasi teleworking – dalam perkembangannya tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis perusahaan semata, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan di berbagai bidang. Misalnya di bidang kesehatan (e-health), metode video conferencing dapat dimanfaatkan untuk melakukan demo pengenalan obat baru dari pusat ke daerah ataupun sebagai sarana konsultasi para dokter di daerah kepada dokter-dokter ahli di pusat kota. Kemudian di jajaran pemerintahan (e-governance), metoda seperti ini dapat digunakan untuk mengadakan training terpusat dan juga melakukan rapat tanpa harus bertatap muka. Hal ini akan setidaknya dapat mengurangi konsumsi BBM dan pemborosan waktu di perjalanan. Selain dua contoh di atas, web conferencing juga dapat dimanfaatkan untuk menunjuang pertumbuhan industri kreatif skala kecil-menengah. Misalnya, seorang desainer dapat membicarakan desain yang diinginkan pelanggannya secara detil hanya dengan duduk di depan laptop berkamera tanpa harus bertemu secara langsung.

Dengan perannya yang cukup besar di dalam menunjang kegiatan di berbagai bidang (bisnis, pemerintahan, kesehatan, dsb.),  lambat laun web conferencing akan menjadi salah satu kebutuhan utama bagi teleworker. Oleh karena itu, pembenahan di sisi jaringan telekomunikasi untuk memungkinkan penggunaan web conferencing yang terjamin kualitasnya menjadi sebuah keharusan untuk mengakselarasi penerapan teleworking di Indonesia.

Munculnya evolusi teknologi terbaru setelah era 3.5G, yaitu Long Term Evolution (LTE) telah membawa angin segar bagi proses penerapan teleworking di Indonesia. LTE yang sering disebut-sebut sebagai generasi jaringan telekomunikasi bergerak keempat (4G) ini menjanjikan performansi yang jauh lebih baik daripada teknologi pendahulunya (GSM/WCDMA/HSPA). LTE menawarkan throughput yang tinggi dan latency yang relatif rendah. Hal ini memungkinkan pengguna dapat menikmati beragam layanan multimedia yang lebih canggih dan kaya. Kemudian, selain throughput dan latency, LTE juga memiliki sembilan buah profil Quality of Service (QoS) dan dilengkapi dengan intelegensia untuk dapat menerapkannya per subscriber per service per application. Fitur ini yang cukup membedakan LTE dengan teknologi wireless broadband yang ada sekarang di Indonesia yang semuanya masih bersifat best effort dalam melayani pelanggan. Dengan LTE, pelanggan dimungkinkan untuk mendapatkan QoS tertentu untuk layanan tertentu yang mereka inginkan.

***

Teleworking telah diketahui memberikan manfaat yang cukup besar dalam peningkatan produktivitas dan juga penghematan biaya bagi kegiatan bisnis perusahaan. Pengembangan teleworking di bidang-bidang lainnya, seperti e-health dan e-governance, bermanfaat sebagai sarana kordinasi dan pemerataan pengetahuan. Satu hal yang kita tidak boleh lupa bahwa teleworking juga secara tidak langsung dapat menjadi solusi atas kemacetan yang semakin menggila di ibukota. Dengan teleworking, pekerja tidak lagi perlu memboroskan waktu dan BBM selama di perjalanan. Waktu kerja mereka lebih fleksibel dan efisien.

Untuk mempercepat pengadopsian teleworking, inisiatif pemerintah mutlak diperlukan. Pemerintah seharusnya bisa menjadi yang terdepan di dalam implementasi teleworking. Rapat-rapat kordinasi antara jajaran pemerintahan semestinya sudah bisa dilakukan tanpa harus bertatap muka dan menimbulkan kemacetan yang tidak perlu ketika seorang pejabat lewat dengan kawalan lengkap. Penerapan konsep kerja ini di instansi pemerintah bisa lebih mudah dilakukan ketika hal ini sudah menjadi perhatian dan anjuran yang bersifat top-down. Pemerintah bisa memulai dengan menerapkannya di dalam instansi mereka sendiri dengan menyediakan infrastruktur IT dan membebaskan sebagian pekerjanya untuk melakukan teleworking. Ketika pemerintah sudah bisa menjadi teladan dan mengkampanyekan penerapan konsep kerja ini dan telah terbukti berhasil melakukannya, maka lambat laun akan banyak pihak lain yang mengikuti jejaknya.

Saat ini, pengadopsian teleworking masih belum massive di negeri kita. Namun jika ada dukungan dan inisiatif dari pemerintah serta dengan komersialisasi teknologi 4G dalam beberapa tahun lagi di Indonesia, optimis bahwa teleworking akan semakin banyak diimplementasikan dan menjadi primadona untuk menyiasati kemacetan ibukota yang selama ini tidak pernah kunjung membaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s