jejak langkah yang KAU tinggal

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, …  yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yer 29:11)

Itulah yang saya rasakan tatkala saya menengok kembali ke belakang, melompat ke setiap peristiwa menakjubkan yang telah terjadi dalam hidup saya sepanjang tahun 2010.

Tahun 2010, saya awali dengan sebuah kekhawatiran. Khawatir saya tidak bisa menyelesaikan Tugas Akhir dengan baik dan lulus tepat waktu. Sedikit pesimis kala itu. Namun, apa yang direncanakan Tuhan, kita tidak pernah tahu. Dia telah mengatur segalanya. Hingga akhirnya saya bisa menyelesaikannya dengan baik dan lulus cepat pada bulan Juli. Mulai dari topik, partner TA, dosen pembimbing, hingga proses pengerjaannya: saya masih terheran-heran hingga sekarang ketika mengingat itu semua. Saya selalu memandang kelulusan saya tersebut sebagai sebuah anugerah, jika kurang tepat disebut sebagai kebetulan. Ternyata, rencana-Nya tidak berhenti sampai di situ, Dia juga telah pakai tugas akhir kami untuk memenangkan sebuah kompetisi di Surabaya – memberikan pengalaman yang tidak terlupakan bagi kami.

Selepas mendapatkan gelar sarjana, Dia mempercayai saya menjalani ikatan dinas selama satu tahun di salah satu vendor telekomunikasi di Jakarta. Sempat khawatir saya tidak bisa beradaptasi dengan baik di kantor ini. Dan memang, di awal-awal saya masih merasa sungkan dan tidak nyaman berada di lingkungan kerja yang hampir semua pekerjanya tidak sebaya. Setiap hari saya cenderung berdiam diri menatap laptop meski kadang tidak mengerti apa yang sedang dibaca, bahkan kadang memang tidak dibaca sama sekali. Beruntung saya ditempatkan di satu tim yang luar biasa gaul dan sangat suportif terhadap orang baru, sehingga seiring dengan usaha dan berjalannya waktu, kondisi pun mulai mencair dan tidak kaku lagi.

Dua bulan sebelum berakhirnya tahun 2010, Dia telah memperkenalkan saya dengan Cinta. Kedatangannya tidak pernah saya duga dan perkenalan kami pun telah Dia rencanakan secara unik. Kehadirannya bagi saya membawa suatu arti tersendiri, terutama setelah empat tahun saya menanti dengan penuh harapan dalam mimpi. Kehadirannya bagaikan jawaban atas segala doa dan harapan yang kadang-kadang terucap secara tidak sengaja tatkala sedang melamun karena merasa sepi sendirian. Cinta membawa aura yang sanggup mengubah diri menjadi lebih positf. Meskipun berawal dari hal-hal kecil tetapi berdampak besar. Itulah Cinta dan kekuatannya.

Sekarang saya tahu bahwa manusia tidak bisa mencari Cinta, tetapi Cinta yang menemukan manusia. Karena itu kedatangan Cinta ini bagi saya adalah suatu pemberian; pemberian yang mesti selalu saya jaga sebaik mungkin dan saya hargai segenap hati. Hanya dengan begitulah, Cinta akan terus bersemi, meskipun perjalanannya tidak selalu mulus dan lurus. Satu hal lagi: saya selalu merasa bahwa Sang Perancang selalu memberikan sesuatu pada orang yang tepat di waktu yang tepat.

Itulah salah tiga di antara sekian banyak berkat-Nya yang tidak terhitung sepanjang tahun 2010. Jika ingin disebut momentum, ya mungkin tiga hal di atas bisa disebut demikian. Namun, jangan bayangkan bahwa kehidupan saya di tahun  2010 mulus-mulus saja. Ada banyak asa tidak tercapai. Ada penantian yang tidak kunjung terjawab. Ada banyak kekhawatiran menjelang hari esok yang penuh misteri.

Tetapi, saya memilih untuk menghitung berkat-Nya daripada mendata semua derita, kekesalan dan keluhan. Karena ketika menghitung berkat-Nya, maka niscaya kita kan kagum akan kasih-Nya. Kita akan sangat takjub terhadap penyertaan-Nya dalam hidup kita yang tidak terhitung banyaknya dan hal ini akan membuat kita selalu bersyukur terhadap apa yang telah kita miliki yang merupakan pemberian dari-Nya. Tidak percaya? Coba saja. Yang diperlukan hanyalah membuka mata, hati dan telinga.

Pdt. Stevanus dalam khotbahnya pada kebaktian remaja Minggu, 2 Januari 2011 yang lalu, mengatakan begini: “Semakin kita mendata apa yang tidak kita miliki dalam hidup, semakin kita ingin berhenti untuk bersyukur.“ Sebuah kalimat yang memiliki kesan mendalam bagi refleksi saya ini bahwa betapa besarnya penyertaan Tuhan selama satu tahun yang lalu dan saya yakin bahwa penyertaan-Nya akan tidak berkesudahan di tahun-tahun mendatang dan berkat-Nya akan semakin tidak terhitung ketika saya mengizinkan Sang Gembala menuntun jalan kehidupan.

Jadi, terima kasih untuk setiap anugerah-Mu, setiap nafas yang bisa saya hela setiap hari, setiap makanan yang sudah Kau cukupkan sepanjang tahun, setiap “keberuntungan” yang selalu tepat waktunya, setiap “seruan” yang memanggil ketika saya terhilang, setiap “tepukan” yang menyadarkan saya ketika khilaf, dan terima kasih untuk Cinta-Mu dan untuk Cinta di dunia yang Engkau percayakan. Saya akan berusaha selalu menjaganya dan memberikan Cinta yang terbaik untuk Cinta.

Terima kasih untuk jejak langkah-Mu yang telah Kau tinggalkan sepanjang tahun lalu. Jejak yang selalu mengingatkan saya bahwa saya tidak pernah berjalan sendirian tahun lalu, tahun ini, maupun di tahun-tahun berikutnya. Jejak-jejak langkah yang selalu menuntun kepada hari depan yang penuh harapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s