Valentine is every togetherness we have

Mungkin sudah sejak semingguang lalu, dekorasi dengan warna dominan pink  serta alunan lagu bertema cinta menghiasi mall-mall dan toko-toko. Jika masih SMA dulu, saya masih ingat ada banyak parcel-parcel lucu berhiaskan tanda jantung hati yang biasa kita sebut “LOVE” dijual oleh teman saya: cokelat, bunga, boneka, dan pernak pernik lain yang “bernada” cinta dan kasih sayang.

Dan hari ini tibalah harinya. 14 Februari, satu hari yang selalu dinantikan setiap dua insan yang sedang memadu kasih, menjalin cinta, dan menjajaki kesempatan dan kemungkinan yang telah dianugerahkan oleh Sang Cinta. Di hari inilah, setiap orang merayakannya dengan berbagi kasih sayang dan perhatian dengan orang-orang yang mereka cintai. Memberikan bunga, cokelat ataupun kado lain kepada mereka yang dianggap berharga dalam hati dan hidup mereka.

Satu pertanyaan yang menarik: Apakah kita sendiri tahu bagaimana sejarah hari valentine yang sedang kita rayakan bersama dengan pacar, sahabat, ataupun keluarga ini?

Saya cukup yakin, bahwa tidak semua di antara kita tahu tentang asal usul hari valentine ini. Dicari di internet pun, bukan jawaban pasti yang akan Anda temukan. Karena ada berbagai versi mengenai asal usul peringatan valentine ini. Saya sendiri akhirnya berakhir dengan kebingungan tatkala saya mencoba mencari asal usul peringatan valentine ini kepada Om Google.

Di tengah pencarian dan rasa penasaran saya, saya mendapatkan satu ilham yang membuat saya merasa tidak perlu lagi mencari kebenaran mengenai asal usul nya.

Mengapa kita semua senang sekali merayakannya tanpa tahu makna pasti yang melatarbelakangi perayaannya?

Saya hanya menemukan satu jawaban: Karena manusia pada dasarnya senang sekali diperhatikan, disayangi, dan dicintai.

Kemudian saya berpikir lagi: Jika memang manusia butuh untuk dicintai dan diperhatikan, mengapakah kita memberikannya hanya setahun sekali?

Terkadang kita sebagai manusia terlalu fokus terhadap hal-hal besar dan menantikannya siang-malam, tanpa kita sadari bahwa setiap hal kecil yang kita miliki sebenarnya begitu berharga dan berdampak sangat besar.

Marilah kita menghargai setiap detik momen kebersamaan kita dengan orang-orang yang kita kasihi dan cintai, menjadikan setiap momen tersebut sebagai momen “valentine” yang selalu tidak terlupakan.

“Love is more than three words mumbled before bedtime. Love is sustained by action, a pattern of devotion in the things we do for each other every day.” – Nicholas Sparks

14 Februari 2011, teruntuk kekasihku

Mungkin sudah sejak seminggu yang lalu, dekorasi dengan warna dominan pink  serta alunan lagu bertema cinta menghiasi mall-mall dan toko-toko. Jika masih SMA dulu, saya masih ingat ada banyak parcel-parcel lucu berhiaskan tanda jantung hati yang biasa kita sebut “LOVE” dijual oleh teman saya. Juga cokelat, bunga, boneka, dan pernak pernik lain yang “bernada” cinta dan kasih sayang.Dan hari ini tibalah harinya. 14 Februari, satu hari yang selalu dinantikan setiap dua insan yang sedang memadu kasih, menjalin cinta, dan menjajaki kesempatan dan kemungkinan yang telah dianugerahkan oleh Sang Cinta. Di hari inilah, setiap orang merayakannya dengan berbagi kasih sayang dan perhatian dengan orang-orang yang mereka cintai. Memberikan bunga, cokelat ataupun kado lain kepada mereka yang dianggap berharga dalam hati dan hidup mereka.Satu pertanyaan yang menarik: Apakah kita sendiri tahu bagaimana sejarah hari valentine yang sedang kita rayakan bersama dengan pacar, sahabat, ataupun keluarga ini?

Saya cukup yakin, bahwa tidak semua di antara kita tahu tentang asal usul hari valentine ini. Dicari di internet pun, bukan jawaban pasti yang akan Anda temukan. Karena ada berbagai versi mengenai asal usul peringatan valentine ini. Saya sendiri akhirnya berakhir dengan kebingungan tatkala saya mencoba mencari asal usul peringatan valentine ini kepada Om Google.

Di tengah pencarian dan rasa penasaran saya, saya mendapatkan satu ilham yang membuat saya merasa tidak perlu lagi mencari kebenaran mengenai asal usul nya.

Mengapa kita semua senang sekali merayakannya tanpa tahu makna pasti yang melatarbelakangi perayaannya?

Saya hanya menemukan satu jawaban: Karena manusia pada dasarnya senang sekali diperhatikan, disayangi, dan dicintai.

Kemudian saya berpikir lagi: Jika memang manusia butuh untuk dicintai dan diperhatikan, mengapakah kita memberikannya hanya setahun sekali?

Terkadang kita sebagai manusia terlalu fokus terhadap hal-hal besar dan menantikannya siang-malam, tanpa kita sadari bahwa setiap hal kecil yang kita miliki sebenarnya begitu berharga dan berdampak sangat besar.

Marilah kita menghargai setiap detik momen kebersamaan kita dengan orang-orang yang kita kasihi dan cintai, menjadikan setiap momen tersebut sebagai momen “valentine” yang selalu tidak terlupakan.

“Love is more than three words mumbled before bedtime. Love is sustained by action, a pattern of devotion in the things we do for each other every day.” – Nicholas Sparks

14 Februari 2011
oleh Jeffrey Kurniawan, untuk kekasihku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s