excuse-moi

Saya membeli buku ini beberapa bulan lalu ketika digelar Kompas Gramedia Fair di Gelora Bung Karno. Awalnya saya tertarik karena cover buku ini sangat keren dan unik. Dihiasi dengan gambar-gambar khas kebudayaan Cina, membuat saya berkata dalam hati: “Wow, buku ini gue banget nih.”

Setelah saya berhasil menemukan sampelnya, saya baca sekilas isinya. Ternyata gaya penceritaan sang penulis, Margareta Astaman sangat unik dan mengalir. Sebelumnya, saya sendiri tidak pernah membaca buku beliau. Ini baru pertama kalinya saya baca, dan saya beli sekaligus dua buah: excuse-moi dan After Orchard.

Sekarang, saya ingin berpendapat mengenai buku yang beberapa minggu lalu baru selesai saya baca. Karena isi buku ini mengangkat isu yang cukup sensitif, maka sebelum cerita, saya mau bilang:

Permisiiii…

Menurut saya, buku ini lebih cocok dikatakan sebagai kumpulan curhat Margie — nama panggilan dari Margareta Astaman– sebagai seorang keturunan Cina. Meskipun pada faktanya, Margie adalah keturunan campuran dengan komposisi darah 50% Cina, 25% Jawa, dan 25% Betawi, namun perawakannya dan wajahnya lebih banyak terlihat sebagai keturunan Cina. Hal ini membuat dia banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman yang kurang “sreg” dalam hidupnya.

Sebagai warga keturunan Cina, Margie membahas dengan lengkap uneg-unegnya di buku ini. Mulai dari dipanggil-panggil “Cina” hingga pengebirian impian terhadap orang Cina. Di buku ini juga dia menjelaskan mengapa orang keturunan Cina menguasai bidang ekonomi lebih banyak dibanding pribumi, mengapa orang Cina punya banyak prestasi individu yang menonjol, dan berbagai stereotip lainnya yang selama ini beredar di sebagian masyarakat Indonesia. Menjelang akhir buku, Margie juga dengan gaya yang cukup jenaka memasukkan isu kontroversial mengenai hubungan cinta lintas suku dan agama. Semuanya diceritakan dengan lugas, tanpa banyak basa-basi.

Membaca buku ini membuat saya sebagai warga keturunan Cina tanpa sadar mengangguk-anggukan kepala tanda mengiyakan apa yang telah disampaikan oleh Margie. Apa yang disampaikan oleh Margie mewakili apa yang selama ini sering saya pikirkan dan renungkan.

Satu hal yang terpenting dalam buku ini adalah: pada akhirnya, buku ini mengajak kita semua untuk sama sekali tidak memelihara budaya rasis dan terjebak pada stereotip-stereotip tidak perlu yang tidak benar. Secara implisit buku ini mengajak kita hidup rukun satu sama lain, bergandengan tangan membangun bangsa sebagai satu kesatuan identitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s