The Fifth Mountain

Pernahkah kita bertanya-tanya mengenai kehadiran Tuhan, keberadaan-Nya, dan misteri antara pilihan dan takdir hidup manusia? Novel ini telah menjawab pertanyaan iman tersebut melalui kisah perjalanan seorang nabi.

Elia, yang kala itu berumur 23 tahun, sedang diburu oleh Ratu Izebel. Dia kemudian melarikan diri dari Israel ke kota Akbar, menumpang di rumah seorang janda dan putranya. Hidup sebagai seorang pengasingan, tidak pernah mudah bagi Elia. Ketika kota itu terancam peperangan, Elia berseru pada Tuhan agar menyelamatkan kota itu dan penduduknya, tapi Tuhan seakan tidak mendengar. Ketika dia meminta Tuhan menyelematkan perempuan yang dicintainya, Tuhan pun seakan memalingkan muka tak peduli. Di satu titik, Elia merasa dirinya ‘dipermainkan’ oleh Tuhan. Segala yang dialami olehnya membuat Elia mempertanyakan kasih dan kemurahan hati Tuhan. Akhirnya Elia mengambil keputusan untuk menentang Tuhan sampai Dia memberikan jawaban dan mau memberkatinya.

Setting cerita ini diambil dari cuplikan episode di Alkitab. Coelho dengan kreatif telah menciptakan suatu ziarah batin yang membahas hubungan antara manusia dan Tuhannya, dan betapa pentingnya iman serta harapan. Seperti Elia, saat kemalangan datang silih berganti, kerapkali kita bertanya, “Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi padaku?” “Kenapa doaku tidak pernah didengar Tuhan?” Tidak sedikit yang menjadi lebih kuat setelah mengalami kemalangan, tidak sedikit pula yang langsung menyerah dan tak mau bangkit lagi. Ada yang jadi meninggalkan Tuhan, ada pula yang jadi lebih dekat dengan Tuhan.

Bagi saya pribadi, novel ini secara khusus telah menjawab misteri ‘ruang gelap’ antara pilihan manusia dan kehendak Tuhan serta misteri mengapa Tuhan memberikan penderitaan yang rasanya tidak bisa kita tanggung. Pada akhirnya, Tuhan dan rencana-Nya terhadap kita selalu baik adanya. Adalah kebesaran Tuhan jika kita tidak bisa menyelami rencana-Nya terhadap kita. Kita akan mengerti ketika kita memutuskan terus berlari dan mencapai garis finish dengan baik. Memutuskan untuk terus berlari berarti kita mau berdamai dengan masa lalu dan melupakannya. Hanya ada hari ini dan hari esok untuk diperjuangkan sebaik-baiknya.

Apik, menarik, dan menginspirasi!

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s