The 4th Future Leader 2011: an EXTRAORDINARY experience!

Senang bercampur terbeban. Itulah yang saya rasakan ketika membuka dan membaca secarik kertas bertuliskan “WINNER” yang sebelumnya terbungkus dalam sebuah amplop dengan rapi.
Senang, karena Tuhan telah memberikan sebuah jalan untuk saya melanjutkan studi dan sebelumnya saya tidak pernah yakin bisa mendapatkannya. Terbeban, karena persyaratan begitu tinggi, sehingga menuntut saya untuk terus bisa memberikan performa yang prima selama menempuh studi S2 nanti. Ditambah lagi, nama saya sudah diembel-embeli “The Future Leader”.

Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya saya bisa mendapatkan beasiswa S2 “Prof. A. M. Kadarman” dari PPM Manajemen melalui The 4th Future Leader program ini. Di hadapan audiens yang datang di acara graduation night malam itu, meskipun perasaan campur aduk, saya tak bisa lagi menahan ekspresi gembira.

Saya masih ingat ketika email seleksi kasus saya terima (15 Nov), pagi keesokan harinya (16 Nov) ada kabar duka dari Bandung. Saat itu, perasaan ini bercampur aduk. Pokoknya pd tgl 17 Nov saya mesti ke Bandung, teriak saya dalam hati. Jauh sebelum hari itu, sebenarnya saya sempat merasa ragu mengambil kesempatan beasiswa ini, karena persyaratan dan tuntutan yang cukup tinggi ketika kuliah nanti. Ditambah saya mesti berhenti bekerja yang artinya tidak ada pemasukan lagi. Tapi pada saat itu, saya sudah tidak punya waktu untuk berpikir panjang lagi.

Akhirnya pada tgl 16Nov malam dengan hanya beberapa jam saya membuat jawaban atas analisa kasus. Semuanya jawaban sederhana dan saya merasa tidak optimal dengan jawaban-jawaban tersebut. Saya yang semula berpikiran untuk menambahkan grafik, tabel, dsb. akhirnya harus puas dengan jawaban-jawaban singkat saja. Besok paginya saya bangun agak pagi, mengkaji ulang apakah ada bahasa/ketikan yang salah. Setelah itu, saya langsung submit via email. Dalam hati saya berujar, “Pokoknya saya pasrah saja sama Tuhan. Kalau memang di sini jalannya, pasti dapet. Kalau tidak, ya sudah.” Di hari itu juga, jam9 pagi saya langsung berangkat ke Bandung.

Tanggal 24Nov, meskipun tidak berharap banyak, tapi tetap saja saya deg-degan menunggu kabar dari PPM. Saya pun sontak kaget sekaligus gembira ketika pada sore hari membaca nama saya ada di list yang peserta TFL yang lolos seleksi kasus. Dengan jawaban analisa kasus yang begitu sederhana, saya heran mengapa bisa lolos, tp sebaliknya saya juga semakin yakin bahwa mungkin jalan yang dipersiapkan Tuhan untuk saya.

Saya hanya bisa mengucap syukur dan terus maju (karena sudah tidak bisa mundur lagi). Keputusan untuk ikut program ini sudah dibuat dengan menandatangani surat ToC, bagi saya hanya ada jalan maju. Saya mencoba menyangkal segala keraguan dan kekhawatiran dengan percaya bahwa jika jalan saya mulus hingga akhir program ini, this is God’s will and there is no reason for me to not believe that He will help me as long as I keep trying, doing my best and praying. 

Total ada 19 orang peserta TFL yang mengikuti seleksi wawancara dan psikotes pada tgl 12 Des. Waktu yang kami lalui sepanjang pagi hingga sore hari, telah membuat kami cukup akrab. Sayang, 6 orang dari kami gugur di hari pertama dan tidak bisa mengikuti tahapan seleksi selanjutnya, yaitu Adventure Life Journey.  Tinggal sisa 13 orang yang berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa yang pemenangnya akan diumumkan pada hari terakhir.

Adventure Life Journey diselenggarakan di kawasan waduk Jatiluhur Purwakarta dari sejak tgl 12 Des malam hingga tgl 15 Des siang. Secara umum, kegiatan ini merupakan kegiatan outdoor yang bertujuan untuk mengamati karakter para peserta dan juga bagi para peserta tentu saja sebagai media pengembangan karakter. Tentu saja, dibutuhkan fisik yang prima untuk mengikuti kegiatan ini dari awal hingga akhir.

Tiba di sana pada tgl 12 Des hampir tengah malam, kami langsung diizinkan untuk beristirahat oleh para instruktur. Esoknya, kami diharuskan bangun pagi dan stand by untuk senam pagi jam 5.30. Setengah hari pertama (tgl 13 Des) dihabiskan untuk pembekalan teknik-teknik yang dibutuhkan untuk hidup kami ke depan, mulai dari teknik pemasangan/pembongkaran tenda tidur, tenda dapur, tali temali, penggunaan perabot masak, penggunaan kompas dan peta, serta beberapa teknik penting canoeing.

Setengah hari sisanya (setelah makan siang), kami dibagi menjadi dua kelompok dan diberi misi untuk menyelesaikan perjalanan yang terdiri dari beberapa pos. Perjalanan ditempuh melalui air dengan menggunakan perahu motor berkapasitas kurang lebih 10-12 orang, yang disebut bargas. Tapi, kami tidak diperkenankan untuk menggunakan mesin, perahu mesti maju dengan cara didayung.

Sungguh bukan suatu hal yang mudah mengendalikan perahu yang cukup besar dengan menggunakan dayung. Ditambah karena timnya baru dibentuk, kekompakan dan kesehatian masih belum terbina. Kesulitan ini sangat terasa ketika perahu tim saya hanya bisa berjalan mundur menuju pos berikutnya. Sudah 3 kali kami mencoba untuk memutarkan perahu kami agar bisa melaju dengan kepala di depan, tetapi selalu kalah oleh arus. Kedua instruktur yang ikut bersama kami hanya duduk diam sambil sesekali gogodeg menunjukkan rasa gereget sekaligus heran. Puncaknya adalah ketika kami benar-benar bertekad untuk bisa memutarkan perahu meskipun saat itu kami sudah berada lebih depan dibanding kelompok lain. Dibimbing dan disemangati oleh instruktur saat itu, membuat kami lebih bersemangat dan terus mendayung, dan meskipun memang sangat sulit, sedikit demi sedikit perahu kami mulai berputar.

Jelas sekali bahwa memutarkan perahu telah membuat kami kehilangan banyak waktu sehingga berhasil disusul oleh kelompok yang satunya. Hal itu juga yang setidaknya membuat kami kalah hingga mesti makan dengan tahu-tempe sedangkan sang pemenang makan dengan rawon daging. Tapi saya pribadi, merasa telah meraih kemenangan tersendiri. Kami yang sebelumnya tidak kompak dan banyak mengeluh kecapean, telah berhasil menaklukan satu tantangan dengan semangat dan usaha yang konsisten. Tepat sekali jika orang bijak mengatakan tiada keberhasilan tanpa kerja keras.

Hari kedua di Jatiluhur (tgl 14), kami mesti bangun pagi benar, jam5. Untungnya saya tidur dengan memakai baju dan celana yang siap langsung berolahraga. Bangun karena mendengar kegaduhan di luar pada jam 5 kurang 5, saya langsung bergegas pakai sepatu dan ke lapangan. Setelah berolahraga, kami langsung membereskan peralatan dan berkumpul siap berkompetisi lagi. Hari itu, kami dibagi menjadi dua kelompok dengan personil yang berbeda dengan hari sebelumnya. Tugas kami masih sama dengan hari sebelumnya, yaitu melakukan perjalanan ke beberapa pos, tapi kali ini menggunakan kano berdua-dua. Setengah hari, sebagian besar kami habiskan di waduk Jatiluhur yang luas, mencari tujuan, dan menunaikan tugas di pos. Singkatnya, kelompok saya kalah lagi di kompetisi sebelum makan siang tersebut. Makan siang kami praktis hanya nasi-tahu-tempe-tanpa-sambal lagi.

Sehabis makan siang, kami dibagi menjadi dua kelompok baru lagi. Kali ini tidak lagi perjalanan air, tetapi perjalanan darat (hiking). Dengan tas carrier di punggung, cukup berat rasanya melalui perjalanan darat ini. Tidak terlalu banyak tantangan berarti di perjalanan, hanya jalanan naik-turun saja yang membua saya sangat-sangat tertantang dan ngos-ngosan. Bagaimana tidak? Sewaktu tes kebugaran untuk BPS Pertamina saja saya menduduki posisi terakhir tertinggal oleh yang lain. Sekarang meskipun tidak berlari, tapi dengan medan yang cukup berat dan tas punggung yang seberat anak kecil itu, rasanya beraaaaatttt sekali. Tapi, syukurlah kami berhasil memenangkan kompetisi hiking sore itu dan berhak atas menu makanan yang bukan tahu-tempe tentunya. Dimasak dengan apik oleh tiga rekan setim, makan malam saat itu menjadi makanan yang ternikmat yang pernah dirasa selama di Jatiluhur.

Oh ya, saya lupa bilang. Setiap malam, biasanya kami melakukan evaluasi. Difasilitasi oleh para instruktur, kami diwajibkan mengisi satu atau dua kartu merah dan hijau dengan nama teman kami yang dinilai paling efektif (hijau) dan tidak efektif (merah) setelah sepanjang hari berkegiatan bersama. Setelah itu, kami akan diberi waktu untuk menjelaskan pilihan kami dan bagi yang ditulis namanya bebas untuk berpendapat, menyanggah ataupun memberikan klarifikasi. Bagi saya, sesi evaluasi inilah yang paling berguna dan banyak memberikan input bagi perkembangan karakter yang lebih positif lagi. Setelah semua orang berpendapat, orang yang paling banyak mendapatkan predikat paling efektif akan diberi gelang kain warna putih, sedangkan yang tidak efektif diberi gelang kain warna hitam. Gelang dimaksudkan untuk menjadi motivasi sekaligus pengingat bagi kami semua untuk bisa lebih baik lagi di hari berikutnya. Saya, alhamdulilah berhasil mendapatkan gelang putih di hari pertama, meskipun di hari berikutnya mesti memakai gelang hitam.

Hari terakhir di Jatiluhur (tgl 15Nov), kami sudah dibangunkan sejak jam 3 pagi oleh para instruktur. Firasat sudah ada, tapi tebakan kami salah. Sebelumnya kami mengira akan melakukan jurit malam, ternyata bukan sama sekali. Pagi itu merupakan waktu yang diberikan oleh instruktur untuk kami bisa berbicara lebih banyak dengan diri sendiri dan Tuhan. Mungkin tepat juga jika disebut sebagai refleksi dan kontemplasi. Ada 5 pos yang berdekatan satu sama lain. Di tiap pos ada artikel yang mesti dibaca dan diresapi serta ada tugas yang mesti dijawab langsung di tempat. Inilah acara yang paling tidak memerlukan kekuatan fisik sepanjang 3 hari di Jatiluhur. Tidak ada batasan waktu dan tidak ada menang-kalah.

Tiba di pos terakhir sebagai orang yang terakhir, membuat saya sedikit merasa diburu-buru dalam menjawab soal terakhir. Setelah kertas jawaban saya kumpul, saya langsung disuruh sarapan dan bersiap mengenakan baju berlengan panjang. ‘Astaga’, pikirku dalam hati. ‘Ternyata masih ada kegiatan lagi toh.’ Semula saya mengira itulah akhir dari kegiatan kami, ternyata masih ada kegiatan, yaitu membangun sebuah rakit dari 4 drum dan 7 bambu serta beberapa tali. Kami dibagi menjadi dua kelompok: kelompok cowo dan cewe. Singkatnya, kelompok saya kalah. Seperti biasa, menu makan siang bagi yang kalah adalah nasi-tahu-tempe-tanpa-sambal. Itulah akhir dari kegiatan kami di Jatiluhur.

Pulang dari sana dengan menggunakan bus “kopaja” Kostrad yang sama seperti yang kami naiki sewaktu berangkat, kebanyakan dari kami tertidur sepanjang perjalanan. Syukur puji Tuhan, hingga sesi terakhir Adventure Life Journey, tidak ada seorang pun yang mengalami gangguan kesehatan berarti. Kami langsung diantarkan ke Wisma PGI untuk beristirahat sejenak, bersih-bersih dan makan malam, dan kami diharuskan untuk hadir di PPM jam7 malam.

Tiba jam7 lebih 10 menit di PPM, tanpa basa-basi, kami dibagi menjadi empat kelompok. Tiap kelompok diberi kasus untuk dipecahkan dalam waktu kurang dari 3 jam. Kami juga dalam rentang waktu tersebut mesti sudah membuat slide presentasi untuk dipresentasikan keesokan harinya jam8 pagi. Seluruh kelompok, dengan dinamika masing-masing, pada akhirnya bisa menyelesaikan tugas tepat waktunya pada jam10 malam.

Kembali ke Wisma PGI, kami berjalan kaki. Sebenarnya bukan karena kami sangat menyukai keindahan jalanan Jakarta, tetapi kami tidak ada uang untuk menggunakan transportasi umum. Semua uang dan alat komunikasi kami disimpan sementara di panitia. Untunglah, beberapa orang dari kami sangat-sangat kreatif. Tanpa uang pun tidak masalah. Hahahaha.. I couldn’t tell this story here. It is very highly confidential. Hahahaha.. Esoknya, tidak banyak yang kami lakukan setelah presentasi per kelompok di hadapan 5 juri yang katanya ‘dosen killer’. Setelah itu, mainly kegiatan kami hanya menunggu acara graduation di malam harinya.

Ah, saya rasa sudah terlalu panjang membuat ulasan kegiatan 5 hari kemarin. Ini pun masih tidak membahas dengan detil yang sebenarnya banyak hal-hal unik, menarik, dan mengundang tawa yang terbahak-bahak. Haahahahaha.. Maybe, I will write other posts to talk about it. … or you could read more details of the story on my friend’s blog: http://davidgultom.wordpress.com

Bagi saya, mengikuti TFL 4 merupakan pengalaman yang sangat luar biasa: mendapat teman baru, masukan-masukan baru untuk perkembangan diri, mendapat ilmu baru, dan tentu saja mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi. Last but not least, saya ingin menyebutkan satu per satu teman-teman finalis TFL 4 yang sudah bersama-sama menjalani 5 hari yang luar biasa: Ninda, Anggun, Ratna, Ribka, Cintya, Devi, Candra, Dimas, David, Arian, Bara, dan Sofyan. Thank you all, guys. Keep supporting each other in the next 16 months, ok? 

Merampungkan tulisan ini, saya jadi ingat salah satu pertanyaan yang diajukan oleh interviewer pada saat sesi wawancara pada hari pertama: “Coba jawab dalam bahasa Inggris: perkenalkan diri kamu, dan apa yang kamu harapkan dari program ini?”

Saat itu, saya menjawab seperti ini: “…. I hope this program will much contribute in my self-development and I hope this will be an EXTRAORDINARY experience for me ….”

Jika saya mengingat jawaban saya tersebut, now I just can smile and I would say that …

… it really really an EXTRAORDINARY experience and I’ve never regretted joining this program!

9 thoughts on “The 4th Future Leader 2011: an EXTRAORDINARY experience!

  1. aq mw nnya2 ttg tfl dong, kak?
    klo untuk interviewnya, materi apa aja yang ditanyain y?
    apa lokasi outbond-nya beda2 untuk tiap angkatannya?
    tlg sharing infonya ya kak…
    makasih sebelumnya… ^_^.

      • Halo Eka,

        Terima kasih atas pertanyaannya.

        Tidak banyak yang bisa saya share.

        Untuk interview, pertanyaannya tidak jauh beda dengan job interview, yaitu: seputar siapa diri kamu, apa motivasimu, kemudian pertanyaan2 lain berdasarkan apa yang tertulis di CV.

        Untuk kasus, kasusnya tentang manajemen fungsional. Kalau dulu sewaktu saya ikut, kasusnya tentang marketing. Tapi jangan khawatir jika kamu bukan berlatar belakang pendidikan manajemen. Karena saya rasa sih yang dinilai, tidak hanya ketepatan konsepnya, tapi attitude dan juga pola pikir kamu saat presentasi, bagaimana kamu menjawab pertanyaaan, dst.

        Mungkin ini yang bisa share. Semoga membantu, Jangan lupa daftar ya!

  2. Hi Jeff,

    Senang sekali membaca artikel yang menginspirasi ini. Kebetulan saya juga sudah lolos online application. Saya backgroundnya adalah di kependidikan, saya guru matematika. Tapi saya sangat tertarik dengan dunia manajemen dan bisnis,
    APakah boleh saya baca contoh kasus dan jawaban yang kamu kirim dulu, sebagai bayangan seperti apa nanti saya akan menjawabnya. Juga tentang soal2/topik saat 5 hari itu untuk persiapan.🙂 Terima kasih.,

    p.s. bisa langsung diemail ya😉

    • hai, christian.

      maafkan saya baru buka blog lagi. Jadi spertinya tidak ada poinnya lagi saya harus membalas permintaan kamu.. hehe.. apalagi kamu sudah berhasil memenangkan beasiswanya..

      Selamat ya, selamat bergabung di keluarga besar WM-PPM. Kami tunggu di PPM bulan Maret.🙂

      Sukses yaa. keep contact.

  3. Selamat Siang Jefri,

    Perkenalkan nama saya Vinny dan asal saya dari Palembang.
    Setelah saya membaca sebuah artikel dan menemukan fakta bahwa saudara Jefri merupakan salah satu penerima Beasiswa PPM TFL 7 bukan? kalau bisa dibantu, bisa share tentang Tahap Psikotes dan Wawancara. Insya Allah, tanggal 19 Febuari ini saya melaksanakan seleksi tersebut di Jakarta untuk tahapan TFL 8. Terima Kasih atas Bantuannya. Ditunggu Responya ^^

    • Hallo Vinny, apa kabar? sebelumnya saya mohon maaf jika saya baru balas. Sudah lama blog tidak saya buka sehingga saya baru tahu bahwa Vinny memberikan komentar dan bertanya. Mungkin saat ini, pertanyaan Vinny sudah basi untuk dibalas. Maaf ya. Bagaimana hasil dari seleksinya Februari kemarin? Apakah Vinny berhasil mendapatkan beasiswanya? Mudah-mudahan apapun hasilnya, itulah yang terbaik buat Vinny ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s