Satu.. Dua.. Pygmalion Effect!

“Satu.. Dua.. Satu.. Dua.. Satu.. Dua….”

Perlahan tapi pasti, akhirnya perahu bargas berhasil kami putarkan.

Sebelumnya, sudah tiga kali kami — yang terdiri atas 7 orang dengan komposisi 3 laki-laki dan 4 perempuan — tidak berhasil memutarkan perahu yang dimana arah kepalanya berlawanan dengan arah tujuan sehingga kami terpaksa melaju mundur dengan ekor berada di depan. Lelah, tidak kompak, tidak fokus, tidak bergairah, dan pesimis; itulah yang selalu menggagalkan kami sebelumnya. Hingga pada suatu saat ketika kami sedang mencoba memutarkan perahu kami, dan kami berhasil disalip oleh kelompok lain yang semula tertinggal jauh dari kami, seorang dari kami nyeletuk, “Ayo, mereka aja bisa, kenapa kita tidak bisa? kita pasti bisa”

Hingga celetuknya selesai, tidak ada seorang pun dari kami yang menggubris. Tidak lebih dari sekadar angin lalu. Namun, sang instruktur yang menyertai kami di perahu mencoba melakukan repetisi kata-kata semangat tersebut dengan balik bertanya kepada teman kami yang nyeletuk itu, “Apa yang kamu bilang barusan?”

Teman kami yang agak ketakutan dengan pertanyaan langsung tersebut menjawab dengan lebih pelan, “kalau kelompok lain bisa, kenapa kita tidak bisa?”

“Iya, benar. Kalau kelompok lain yang hanya dengan 6 orang saja bisa, kenapa kalian yang dengan 7 orang tidak bisa?” sang instruktur mencoba untuk membangkitkan semangat kami. “Iya 7 orang, tapi kan bebannya juga lebih berat. Instruktur yang masuk perahu ini kan lebih berat daripada yang masuk perahu sana,” saya nyeletuk dalam hati. Tapi terlepas dari celetuk saya dalam hati, saat itu gairah kami mulai naik hingga ke ubun-ubun. Dengan sedikit arahan untuk tetap konsisten, kami mulai mendayung dengan irama yang lebih kompak. Arus air waduk yang pada saat itu memang berlawanan dengan arah putar perahu kami, berhasil kami taklukan. Itulah titik balik sekaligus pencapaian yang sangat berarti bagi kelompok kami.

Pygmalion effect, itulah yang saya pikir terjadi saat itu. Sebuah fenomena dimana semakin besar ekspektasi/harapan yang digantung kepada seseorang, semakin baik pula performanya dalam mewujudkan ekspektasi/harapan tersebut. Pygmalion effect merupakan salah satu bentuk self-fulfilling prophecy, yang merupakan sebuah prediksi yang secara langsung atau tidak langsung menyebabkan prediksi itu menjadi kenyataan. Definisi yang diterjemahkan dari Wikipedia tersebut agak rumit memang. Apalagi melihat gambar/diagram di samping. Karena saya bukan orang dengan latar belakang psikologi, Untuk lebih mudahnya, mari kita simak definisi praktis melalui contoh yang disampaikan oleh Robert K. Merton, seorang sosiologis, yaitu: “when Roxanna falsely believes her marriage will fail, her fears of such failure actually cause the marriage to fail.”

Cukup jelas dan mudah dimengerti, bukan? Dalam hal ini, sebuah output yang baik hanya akan terjadi jika seseorang memberikan feedback positif terhadap keyakinan (belief) dan perilakunya (behaviour). Jika seseorang dari semula sudah mengatakan kepada dirinya sendiri, “Ah, ini sangat sulit, saya tidak bisa, tidak mampu melakukannya”, maka besar kemungkinan dia akan gagal. Demikian sebaliknya, jika seseorang yang menghadapi tantangan hebat dari semula mengatakan, “Aku pasti bisa!”, maka keyakinan tersebut akan merambat keseluruh jiwa dan raganya, sehingga pada akhirnya dia berhasil menaklukan tantangan.

Saya jadi teringat. Sewaktu saya masih duduk di bangku SD, Mama saya meskipun tidak tahu-menahu soal psikologi, dia ternyata sudah menerapkan Pygmalion effect dan self-fulfilling prophecy kepada saya. Ketika saya mesti menghadapi ulangan umum (sekarang UAS), saya seringkali mengeluh karena begitu banyak bahan yang mesti dipelajari dan saya berpikir bagaimana bisa saya mempelajari semuanya. Mama saya selalu bilang begini: “entong ngomong teu bisa teu bisa wae, ga kan bisa bisa lamun kawas kitu. Kudu percaya di hate sorangan mun kamu bisa, pasti bisa geura.” Artinya, “jangan bilang tidak bisa melulu, tidak akan pernah bisa kalau seperti itu. Harus percaya dalam hati kalau kamu bisa, nanti pasti kamu akan bisa.” Pada akhirnya, memang benar ternyata saya bisa!

Keyakinan kita akan sesuatu akan mempengaruhi bagaimana kita bersikap. Hasil dari sikap dan perbuatan kita pada akhirnya akan kembali mewujudkan keyakinan kita tersebut. Itulah yang saya bisa pahami dari Pygmalion effect dan self-fulfilling prophecy ini. Selain untuk personal, konsep ini sangat bermanfaat diterapkan dalam suatu tim, organisasi, perusahaan, maupun suatu institusi pendidikan. Penerapan konsep seperti ini akan memberdayakan secara optimal sisi positif seseorang dalam meraih sesuatu secara maksimal.

Ngomong-ngomong, tahukah Anda dari mana kata ‘Pygmalion’ berasal?

Lagi-lagi menurut Wikipedia, Pygmalion merupakan tokoh legendaris dari Cyprus. Dalam narasinya Ovid, Pygmalion merupakan seorang pemahat yang pada akhirnya jatuh cinta kepada patung seorang perempuan hasil pahatannya sendiri. Suatu saat, dia berkesempatan untuk mengajukan permohonan kepada dewi Venus. Dia memohon agar patung perempuan yang dia cintai itu bisa berubah menjadi seorang perempuan sungguhan. Sepulang mengajukan permohonan, dia tiba di rumahnya dan mencium patungnya tersebut dan merasakan kalau bibirnya terasa hangat. Dia kemudian menciumnya lagi dan meraba dadanya dan merasakan bahwa patung tersebut tidak keras lagi. Venus telah mengabulkan permohonan Pygmalion. Dengan berkat dari Venus, Pygmalion kemudian menikahi patung yang sudah berubah menjadi seorang wanita tersebut. Mereka kemudian memiliki seorang anak laki-laki yang dinamai Paphos.

Itulah kisah singkat Pygmalion. Keyakinan yang dia miliki telah membuat apa yang ia harapkan menjadi kenyataan.

Cukup sudah saya ‘mengigau’ tentang sesuatu yang berbau psikologi ini. Semoga penuturan sederhana saya yang seorang awam dalam psikologi di atas benar adanya dan bisa bermanfaat. Buat teman-teman yang lebih mengerti, bisa ikut menambahkan atau mengoreksi.

One thought on “Satu.. Dua.. Pygmalion Effect!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s