Mencari Oase di Tengah Kehausan Akan Berita Positif

3 bulan terakhir ini, saya selalu terbiasa menonton channel TV berita lokal sepulang dari tempat kerja. Alasannya: entah kenapa sejak mengganti TV tuner, hanya satu channel TV berita (sebut saja X TV) dan satu channel TV bukan berita yang tertangkap oleh antena di kos saya. Alhasil, hanya dua itu saja yang bisa saya tonton dengan baik.

Pulang kantor sekitar pukul 5 atau 6 sore, itu adalah jadwal tayang berita sore di channel X TV. Dibandingkan menonton acara-acara yang saya kurang suka di channel satunya lagi, saya memutuskan untuk selalu nonton berita pada jam-jam tersebut. Lumayan lah, tambah-tambah wawasan dan update peristiwa terkini.

Namun, lama-lama saya mulai sadar bahwa hampir tidak ada konten positif yang ditayangkan setiap sore. Dahulu (sewaktu kecil), saya berpikir bahwa acara berita (dahulu saya kenalnya Dunia Dalam Berita di TVRI) menayangkan fakta atau peristiwa apa yang terjadi hari ini atau kemarin (paling telat).

Sekarang, yang saya pahami tidak lagi begitu. Sekarang ini acara berita bukan hanya berisi fakta saja, tetapi juga banyak berisi kritik, opini, dan spekulasi yang bermantelkan ilmu hukum, politik dan kenegaraan. Di salah satu TV, bahkan setiap hari acara beritanya memiliki tema pembahasan/diskusi yang khusus. Celakanya, tema ini tak jarang dipakai untuk beberapa hari. Mungkin saupaya nempel di kepala pemirsa ya. Mending jika tema nya positif, kebanyakan negatif. Tampaknya sekarang ini, acara berita bukan lagi “Dunia dalam Berita”, tetapi “Dunia dalam Opini”. Cape deh. Beberapa teman sudah mengurangi mengkonsumsi berita di TV, bahkan ada yang benar-benar tidak menonton berita TV lagi akhir-akhir ini.

Lama-lama, saya juga jadi mengerti bahwa segala media, termasuk channel TV berita, bisa disalahgunakan untuk membentuk persepsi publik. Konten negatif yang selalu diulang-ulang dan dibahas tiap hari bersama dengan pengamat politik yang berbeda namun sama pesimis, sinis dan skeptis nya, diakui atau tidak telah berhasil membentuk apriori negatif terhadap kondisi bangsa dan negara kita sendiri, lebih tepatnya lagi adalah terhadap para pejabat dan pemegang kekuasaan negara kita.

Seolah-olah bangsa kita ini sudah tidak ada harapan. Seolah-olah tidak ada lagi kemajuan dan sesuatu positif yang dicapai bangsa kita. Seolah-olah para pejabat pemerintah semuanya busuk, semuanya salah dan tidak akan pernah becus. Seolah-olah pemerintah diam saja melihat kesengsaraan rakyat dan tidak peduli.

Pertanyaannya: apakah benar demikian adanya? Mungkin saja benar demikian. Namun, bisa jadi tidak sepenuhnya benar atau bahkan totally wrong. Jangan-jangan ada yang sedang berkepentingan di balik semua ini. Siapa tahu.

Yang jelas, berita negatif yang berlebihan tidak baik untuk konsumsi harian, bisa berakibat fatal; masyarakat menjadi skeptis dan pesimis.

Di tengah situasi pemberitaan yang seperti itu, tanpa sengaja saya menemukan suatu oase ketika mebolak-balik halaman majalah Intisari yang baru saya beli sekitar seminggu yang lalu. Adalah komunitas Good News From Indonesia (GNFI) yang mencoba menghadirkan inspirasi, motivasi dan optimisme bagi bangsa ini. Lahir pada 2007 dengan semangat untuk menjadi wadah pemberitaan yang seimbang, sekaligus menjadi “good force” atau duta besar positif bagi Indonesia, GNFI  menjadi jalur pemberitaan berita positif dan berita-berita unik tentang Indonesia yang banyak dilewatkan oleh media-media massa mainstream. Berita-berita tersebut disebarkan melalui berbagai panggung dunia maya, mulai dari situs web hingga media social networking.

Saat ini ada 100 orang kontributor yang berasal dari berbagai negara dengan beragam profesi. Semuanya satu visi dan misi yaitu untuk menyebarkan berita positif tentang Indonesia. GNFI memiliki tidak kurang dari 16 topik di web-nya. Di bagian travel/tourism, ada yang unik yaitu 365Indonesia. Idenya adalah setiap hari membahas salah satu spot yang memiliki keindahan alam di negeri Indonesia.

Buat yang penasaran, bisa langsung meluncur ke webnya: www.goodnewsfromindonesia.org

So, akhir kata, carilah yang positif mulai dari sekarang. Fakta dan peristiwa tetap penting, tetapi waspadalah terhadap bumbu-bumbu pedasnya. Bangsa ini perlu semangat positif dan optimisme untuk bisa maju, bukan sebaliknya.

One thought on “Mencari Oase di Tengah Kehausan Akan Berita Positif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s