Tadi pagi, aku belajar tentang kemurahan Tuhan

Bagi umat kristiani, kisah Kejadian 3 pastinya sudah sangat menempel di ingatan kita. Karena peristiwa yang tercatat dalam Kejadian 3 itulah, pengorbanan Kristus menjadi sangat berharga. Ya, Kejadian 3 berkisah tentang kejatuhan manusia dalam dosa, tentang bagaimana manusia terbujuk oleh Iblis, tentang bagaimana manusia saling menyalahkan, dan tentang hukuman, sekaligus janji, yang diberikan Tuhan kepada manusia dan si ular.

Selama ini, itulah yang saya ingat tentang Kejadian 3 hingga pada pagi tadi paradigma saya sedikit digeser melalui khotbah yang saya dengarkan. Jadi, sebenarnya kita bisa membuka value lain dari Kejadian 3, yaitu bahwa ternyata Tuhan itu tidak tegas.

Tuhan pernah bilang bahwa ketika manusia memakan buah pohon yang ada di tengah-tengah taman itu, manusia akan mati. Tapi, nyatanya setelah manusia memakannya, mereka tidak mati. Dalam konteks moderen, sikap Tuhan yang demikian mungkin dapat disebut sebagai tidak efektif dan efisien.

Apa yang ingin dikatakan Kejadian 3 lebih luas dari sekedar informasi kejatuhan manusia dalam dosa. Kejadian 3 sebenarnya ingin menceritakan tentang kemurahan Tuhan terhadap manusia. Karena kemurahan Tuhan itulah, manusia tidak mati.  Demikian juga dengan kita sekarang. Kita semua orang berdosa masih dapat hidup hingga saat ini hanya semata-mata karena kemurahan Tuhan. Dialah yang masih memberikan kesempatan kepada kita. Bayangkan jika Tuhan ternyata sangat tegas, efektif dan efisien, adakah yang masih hidup saat ini? Pasti tidak.

Kemurahan dan kasih sayang Tuhan kepada manusia, itulah yang mendasari Kekristenan. Sebagai umat-Nya, sudah selayaknya kita selalu sadar bahwa keberadaan kita saat ini hanya karena kemurahan Tuhan. Apa yang kita miliki dan dapatkan setiap hari, bukan karena kuat dan gagah kita, tetapi karena pemberian Tuhan semata. Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong, sebaliknya semakin rendah hati, dan menjadi berkat bagi orang lain.

Jika hidup kita diibaratkan sebuah gelas kosong, Tuhan selalu menuangkan air segar secara terus menerus ke dalam gelas tersebut hingga suatu saat gelas tersebut tidak akan mampu menampung air lagi sehingga meluap keluar. Artinya, berkat Tuhan tidak pernah berhenti, selalu baru setiap pagi dan cukup bagi kita. Jika kita memang menghayati kenyataan ini, maka berkat tersebut pada akhirnya akan meluap keluar dari diri kita dan dapat dirasakan oleh orang sekeliling kita.

2 thoughts on “Tadi pagi, aku belajar tentang kemurahan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s