suatu AWARENESS dari seorang anak di Duren Tiga

Namanya Suci, seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas 1 SD. Hingga Minggu kemarin, teman-teman WM 67 PPM yang mengajar di Duren Tiga masih bisa melihat senyumnya dan mengajarkan dia Matematika dan Bahasa Indonesia. Hari ini, kami semua dikejutkan dengan berita bahwa Suci, anak cantik dan cerdas itu, telah tiada, hanyut tat kala dirinya sedang bermain di sekitaran kali Mampang, Jakarta.

Inilah potret kehidupan ibukota. Di saat banyak anak-anak kecil dapat berjalan-jalan dari mall yang satu ke mall yang lain didampingi orang tuanya, anak-anak lainnya hanya bisa bermain di pinggiran kali, saling menciprat-cipratkan air bersama teman-temannya. Di saat banyak anak kecil dibelikan tablet seharga 4-5 juta untuk bermain oleh orang tuanya dengan nyaman di dalam rumah, anak-anak lainnya hanya bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya, bermain di bawah terik dan hujan, karena orang tuanya tidak mampu membelikan mainan. Mereka tak pernah tahu kalau dunia sudah semaju iPad 3.

Miris, tapi klise. Miris, melihat begitu lebarnya jurang ekonomi masyarakat perkotaan. Klise, kalau ingat ini semua sudah terjadi sejak lama, seakan paradoks seperti ini adalah nature kehidupan dunia yang mutlak terjadi: pemimpin-bawahan, penjajah-budak, baik-jahat, polisi-penjahat, kaya-miskin. Saking klisenya, sudah banyak orang tidak lagi peka, tidak lagi merasa miris, dan cenderung apatis terhadap fenomena-fenomena serupa yang dialami oleh Suci.

Membayangkan kehidupan Suci, saya berpikir bahwa, baginya, mungkin cita-cita dan harapan benar-benar berada di “ujung pena”. Bukan berarti, dia tidak tahu ingin jadi apa setelah besar – mungkin dia sudah tahu, mungkin belum – tetapi apa yang dicita-citakan olehnya, atau bahkan kedua orang tuanya, sangat bergantung kepada pendidikan. Pendidikan adalah bekal sekaligus jalan yang diyakini dapat membawa kehidupan seseorang menjadi lebih baik, tidak hanya secara intelektual, tetapi lebih lagi adalah secara ekonomi.

Jangan pikir pendidikan adalah hal yang mudah diperoleh bagi setiap orang di tanah air ini –meskipun dalam UUD 1945 dikatakan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Bagi sebagian dari kita, pendidikan merupakan kesempatan yang langka dan sulit didapatkan, tapi pantas diperjuangkan. Di sinilah terletak sebuah ironi, karena sebagian dari kita yang lain—diakui atau tidak—banyak yang menyepelekan  arti penting pendidikan.

Sebuah observasi sederhana dapat dilakukan tentang alasan banyak orang menyia-nyiakan pendidikan. Hasilnya mungkin beragam. Namun, satu hal yang pasti: orang-orang tersebut belum merasa sangat membutuhkan pendidikan untuk menopang hidup mereka. Mereka memiliki banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan dan mungkin diberikan secara gratis kepada mereka untuk menopang hidupnya. Mereka sedang berada di zona sangat nyaman, dan belum pernah dalam hidup mereka merasa seperti didesak hingga ke “tepi jurang yang dalam”.

Bagaimana dengan kita? Mestikah kita didesak hingga ke “tepian jurang” dulu untuk menyadari pentingnya kesempatan mengenyam pendidikan? Atau kah kita dapat belajar dari fenomena-fenomena di sekitar kita? Semoga kita dapat menyadari begitu besarnya kesempatan yang telah dikaruniakan kepada kita.

Dan berbahagialah bagi kita yang telah memiliki awareness akan hal tersebut. Semoga kita dapat mensyukurinya dengan memanfaatkan kesempatan itu untuk sebesar-besarnya kebaikan diri dan sesama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s