Natal: ALLAH hanya ingin bantu kita

Natal. Sedikit telat membicarakannya di penghujung tahun ini. Mestinya 5 hari yang lalu saya membicarakannya. Namun, apa daya, saya tidak mendapatkan pemaknaan yang mendalam tentang Natal tahun ini. Dan secara occasion pun, hampir setiap Natal selama hidup saya, saya tidak pernah merasa Natal begitu spesial.

Saya satu-satunya Kristen dalam keluarga. Tak pernah ada pohon Natal atau pun kumpul bersama saat Natal. Tak pernah ada kado Natal dari keluarga. Sewaktu kecil, yang paling didambakan tentang Natal hanyalah kado Natal dari Sekolah Minggu. Sewaktu remaja dan pemuda, yang paling didambakan adalah ikut melayani dalam perayaan Natal di gereja. Dan sekarang, ketika beranjak dewasa, inilah saya, jauh dari teman-teman sepelayanan dulu. Tak ada yang spesial tentang Natal, kecuali jadwal rutin pulang kampung menjenguk orang tua dan mengikuti serangkaian acara Natal di gereja tempat saya dibaptis.

Bicara tentang makna Natal, ya saya tahu bahwa Natal adalah cerita tentang Sang Malaikat yang menjumpai Maria, memberitahu kabar sukacita itu, kemudian Yusuf dan Maria mencari penginapan, akhirnya hanya bisa melahirkan di palungan yang legendaris itu. Dan setelah Yesus lahir, cerita biasa dilanjutkan dengan misi Yesus ke dunia yang pada akhirnya akan disalib menebus dosa seluruh umat manusia. “Dia hadir untuk menyelamatkan manusia dari dosa”, itulah rasanya dogma yang tertanam khatam dalam benak saya, mungkin dalam benak hampir kebanyakan orang juga. Tidak ada yang salah tentang itu. Namun, lama-lama saya merasa sangat biasa dengan pemaknaan tersebut. Sangat biasa, hingga kehilangan maknanya.

Pernah suatu Natal, saya mendapatkan pemaknaan yang cukup berbeda tentang Natal. Sewaktu itu, pendeta memberikan sudut pandang lain tentang cerita Natal. Dia mengambil sudut pandang Maria untuk dibahas, di mana Maria ketika diberitakan oleh Malaikat menunjukkan sikap seorang hamba dengan mengatakan “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38). Sangat excited rasanya saat itu mendapatkan pemaknaan lain tentang Natal. But, that was a long long time ago. Mungkin sekitar 2 tahun yang lalu, dan saya baru ingat kembali hari ini, ketika membuat tulisan ini.

Saya tidak ingat apakah ada makna spesial yang saya dapatkan di Natal tahun lalu. Begitu pun dengan lima hari yang lalu, saya tidak memiliki makna spesial apa pun tentang Natal. Dua gereja di mana saya bergereja, memiliki tema natal yang cukup klise. Begitu arogannya saya, dalam hati saya bergumam, “ yah, semua orang tahu sudah tahu tentang hal itu.”

Tapi kemarin, bukan di tanggal 25 Desember, melainkan 30 Desember, di sebuah kebaktian, setelah Natal kemarin saya merasa sangat hampa, saya merasa dipenuhi oleh pemaknaan yang mendalam tentang peristiwa Natal. Secara inti, mungkin tidak ada yang beda dengan kalimat klise “Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa”. Namun, ilustrasi yang saya dapatkan hari ini telah kembali membukakan telinga dan menyentuh hati saya; membungkam arogansi dan menjatuhkan kangkuhan hati saya. Terima kasih, Tuhan. Saya berharap saya akan terus ingat ilustrasi ini.

Di suatu musim dingin bersalju, seorang suami diajak oleh istrinya untuk menghadiri ibadah Natal di gereja. Sang Suami menolak hingga pada akhirnya hanya Sang Istri yang pergi ke gereja. Sang Suami memilih untuk tinggal di rumah, duduk di dekat perapian sambil menyeruput secangkir teh hangat, dibandingkan bersama-sama melintasi jalan yang dipenuhi salju dan cuaca dingin ke gereja.

Ketika Sang Suami duduk, tiba-tiba dia mendengar kegaduhan di jendelanya. Ternyata ada seekor burung yang menabrak-nabrakan dirinya berusaha untuk masuk. “Ah, mungkin burung tersebut ingin merasakan kehangatan di dalam sini,” pikir si Suami. Akhirnya, dia pun membuka pintu, berjalan mendekati burung itu. Namun, begitu tangannya hendak meraih, burung itu pun langsung terbang. Sang Suami pun masuk kembali.

Tidak lama, dia mendengarkan kegaduhan yang sama yang disebabkan oleh Si Burung. Kali ini, dia berpikir dengan lebih cerdas. Dia sengaja menjatuhkan remah-remah roti yang membentuk jalur masuk ke pintu rumahnya. Si Burung pun memakan remah-remah itu satu per satu. Namun, ketika tiba di depan pintu dan melihat Sang Suami itu sudah menunggu, dia pun terbang kembali.

Sang Suami akhirnya kembali menutup pintu dan duduk di perapian. Dia begitu gregetan terhadap burung itu. Dia bergumam kesal, “Mengapa burung itu selalu terbang pergi? Padahal aku tidak berniat jahat padanya, aku ingin menolongnya, aku ingin memberikannya suatu kehangatan di tengah cuaca yang dingin ini.” Kemudian dia merenung, dalam hati dia berkata, “Andai aku bisa menjadi burung atau paling tidak berbicara dalam bahasa burung, inign sekali kukatakan maksud baikku pada burung tadi, bahwa aku ingin menolongnya.”

Kemudian, pikirannya pun melayang ke peristiwa Natal yang sedang dirayakan seluruh umat dunia. Lewat peristiwa itu, dia sadar bahwa Yesus hadir ke dunia karena Allah ingin menolong manusia. Oleh karena itu, Dia menjadi manusia untuk bisa menyampaikannya langsung kepada manusia dan menunjukkan langsung Jalan Keselamatan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s