Innovation Value Chain, Kunci Keberhasilan Inovasi

“Bagaimana menghasilkan inovasi yang sukses?” Mungkin pertanyaan ini akan terus bergulir dan menjadi tantangan yang tak habis-habisnya bagi para pemegang keputusan di tiap perusahaan. Bagaimana tidak, di era ketika dunia menjadi flat—nyaris tanpa batasan–dan dinamis karena cepatnya arus informasi, apa yang menjadi keunggulan satu perusahaan hari ini belum tentu bisa bertahan hingga besok.

Dalam kondisi inilah, inovasi secara berkelanjutan menjadi kapabilitas kunci yang harus selalu diupayakan dan dikembangkan oleh perusahaan bila ingin menjadileader—unggul dibandingkan para kompetitor—dan meningkatkan daya saingnya.

Untuk menjawab pertanyaan “bagaimana menghasilkan inovasi yang sukses?”, perlu disadari bahwa setiap  perusahaan menghadapi tantangan yang berbeda dalam berinovasi. Artinya, menelan bulat-bulat praktik inovasi perusahaan lain bisa jadi akan percuma, bahkan membahayakan jika diterapkan pada situasi dan kondisi yang tidak tepat.

Agar inovasi membuahkan hasil, perusahaan perlu mempertimbangkan dan mengkaji kondisi terkini, mengidentifikasi dengan tepat apa yang menjadi tantangan, dan mengembangkan cara untuk mengatasi tantangan tersebut.

Morten T. Hansen dan Julian Birkinshaw, melalui artikelnya di Harvard Business Review edisi Juni 2007, memperkenalkan sebuah framework komprehensif, Innovation Value Chain yang menggambarkan inovasi sebagai rantai nilai yang mengubah ide menjadi hasil yang bersifat komersil.

Innovation value chain (IVC) dirumuskan berdasarkan lima rangkaian penelitian mengenai inovasi yang dilakukan oleh Hansen & Brikinshaw selama bertahun-tahun. Penelitian ini menggunakan metode wawancara yang melibatkan lebih dari 130 eksekutif dari 30 perusahaan multinasional di Amerika Utara dan Eropa, survei terhadap 4.000 pekerja non-eksekutif di 15 perusahaan multinasional, dan analisis keefektifan inovasi atas 120 proyek pengembangan produk baru dan 100 unit usaha korporat.

IVC memandang inovasi sebagai sebuah proses sekuensial (berurutan dan teratur) yang terdiri dari tiga fase. Fase pertama adalah penciptaan ide (idea generation). Menurut IVC, sebuah inovasi bisa berasal dari hasil kolaborasi antar anggota dalam suatu unit, kolaborasi antar unit (cross unit collaboration), dan kolaborasi dengan pihak eksternal. Urgensi kolaborasi pada fase pertama ini terletak pada akumulasi wawasan dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengembangkan ide.

Dalam idea generation, perusahaan harus sudah memperhatikan jenis kolaborasi yang ketiga, yaitu kolaborasi dengan entitas-entitas di luar perusahaan, seperti pelanggan, pengguna produk, kompetitor, universitas, pengusaha independen, investor, peneliti, dan pemasok bahan baku maupun teknologi.

Untuk bisa berhasil, sebuah perusahaan memang tidak boleh mengabaikan kolaborasi dengan pihak luar. Dengan kolaborasi itu, perusahaan bisa melihat peluang/ancaman, menyadari kekuatan/kelemahan dirinya dibandingkan kompetitor, mengetahui ekspektasi pelanggan dan apakah pelanggan sudah puas atau belum, dan pada akhirnya mampu menumbuhkan point of view yang baru dan menghasilkan ide-ide inovatif dan segar.

Fase kedua adalah konversi ide (idea conversion). Pada fase ini, terdapat dua kegiatan utama, yaitu seleksi (selection) dan pengembangan (development). Setiap perusahaan pasti memiliki kriteria tertentu untuk menentukan apakah suatu ide akan dilanjutkan atau tidak. Pada saat seleksi, ide-ide yang sebelumnya telah dirumuskan melalui tahap idea generation akan disaring (screening) berdasarkan kriteria-kriteria, termasuk kriteria pendanaan (funding).

Masalah yang sering terjadi di fase kedua adalah ketika perusahaan memiliki kriteria seleksi dan pendanaan yang terlalu ketat sehingga tidak ada ide yang mampu memenuhi criteria. Hal sebliknya juga bisa menjadi kendala, kriteria terlalu longgar sehingga perusahaan dapat meloloskan banyak ide dengan mudah. Padahal, tidak semua ide selaras dengan strategi perusahaan. Oleh karena itu, kriteria-kriteria tersebut harus ‘pas’, dipertimbangkan dengan seksama agar selaras dengan strategi dan tujuan yang ingin dicapai.

Di fase kedua ini pula, ide yang telah lolos kriteria akan dikembangkan menjadi produk, layanan, bisnis, atau proses yang sesungguhnya, yang pada akhirnya diharapkan akan mendatangkan pendapatan bagi perusahaan.

Namun, tidak selamanya ide yang telah lolos seleksi berhasil dikembangkan lebih lanjut meskipun dana untuk eksekusinya sudah sudah dikucurkan. Ada banyak ide yang layu sebelum berkembang. Salah satu penyebabnya adalah perusahaan sibuk melakukan pekerjaan lain, alih-alih menjadikan ide baru tersebut sebagai prioritas. Misalnya, tidak ada tim khusus untuk mengembangkan ide baru.

Hasil riset Center of Innovation and Collaboration PPM Manajemen menunjukkan bahwa salah satu faktor penentu keberhasilan inovasi adalah menindaklanjuti dan mengimplementasikan hasil proses inovasi (CIC, 2013).

Dengan demikian, adalah penting bagi jajaran puncak perusahaan untuk menyediakan ‘koridor’ yang cukup untuk merealisasikan ide. Tanpa koridor yang jelas dan dukungan top management, potensi sebuah ide yang telah disetujui untuk menguap di tengah jalan menjadi lebih besar.

Fase ketiga dalam IVC, sekaligus yang terakhir, adalah difusi ide (idea diffusion). Fase terakhir ini berbicara tentang bagaimana ide yang sudah diciptakan, lolos seleksi, dan direalisasikan—misalnya dalam bentuk produk/jasa baru—dapat disebarkan dengan efektif. Penyebaran dilakukan baik ke seluruh jalur distribusi, kelompok pelanggan , maupun ke cabang perusahaan yang tersebar di berbagai lokasi.

Untuk melakukannya, tentu saja dibutuhkan koordinasi berbagai pihak dalam perusahaan. Oleh karena itu, penerimaan (buy in) dari pihak-pihak tersebut terhadap produk/jasa baru mutlak diperlukan sehingga mereka bisa mendukung penuh dan turut menyebarkan informasinya. Dengan demikian, difusi ide tidak hanya berorientasi eksternal, tetapi juga internal.

Jadi, bagaimana menghasilkan inovasi yang sukses? Alih-alih langsung sibuk memikirkan ide atau praktik inovasinya, atau sibuk mencontek apa yang perusahaan atau organisasi lain lakukan, fokuslah dulu pada rantai nilai inovasi perusahaan Anda dan perbaiki titik kelemahan di ketiga fasenya.

Mulailah memandang inovasi sebagai aliran yang terintegrasi. Ada baiknya merancang mekanisme atau sistem yang menyeluruh di dalam menciptakan ide (idea generation), mengkonversi ide (idea conversion), dan menyebarkan ide (idea diffusion), yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan perusahaan Anda, karena rantai nilai inovasi yang kuat akan menjadi enabler keberhasilan inovasi Anda.

Referensi: “The Innovation Value Chain,” by Morten T. Hansen & Julian Birkinshaw (HBR June 2007)

Telah dipublikasikan pada 10 November 2014 di: http://microsite.katadata.co.id/ppm-manajemen/innovation-value-chain-kunci-keberhasilan-inovasi 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s